Postingan

Mengilhami Visualisasi 430 Tahun Perjalanan Yogyakarta Bersama Diorama Arsip DPAD DIY

Gambar
                 Arsip dalam suatu penelitian sejarah adalah sumber primer. Tidak ada arsip, penelitian sejarah menjadi tidak relevan. Kita menjadi tidak bisa mengungkap fakta sejarah yang ada dari suatu peristiwa. Oleh karena itu, arsip harus dikelola dengan baik dan profesional agar dapat digunakan hingga waktu yang akan datang. Pemerintah di Indonesia sudah memiliki kesadaran akan hal tersebut, khususnya pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD DIY) yang mulai dibangun pada tahun 1948 sudah berkembang menuju modernisasi dan penataan yang baik. Selain sebagai sarana publik dalam mengakses arsip, lembaga pemerintah yang berlokasi di Jalan Raya Janti, Banguntapan, Bantul, DIY ini juga memiliki “wahana” baru yakni Diorama Arsip. Gambar 1. Replika gapura Kraton Yogyakarta di Diorama Arsip             Diorama Arsip merupakan hasil karya pengelo...

Intro Living Museum, Konsep Segar Menelusuri Khazanah Jati Diri Wilayah Kotagede

Gambar
           Mataram adalah salah satu Kesultanan besar nusantara yang menjadi kebanggaan para penerusnya, terkhusus bagi masyarakat Yogyakarta. Panembahan Senopati sebagai raja Mataram yang pertama (1586-1601) menempati kawasan Kotagede sebagai ibukota kerajaan. Kawasan ini kemudian semakin berkembang sebagai pusat kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya. Seiring berjalannya waktu, Kotagede menjadi pusat perdagangan dan kerajinan perak dimulai dari tahun 1903. Hal ini tak khayal menimbulkan peradaban yang unik dimulai dari industri, makanan, hingga kelompok orang yang menetap di area selatan Kota Yogyakarta ini. Salah satu contohnya adalah Orang Kalang, kelompok ahli bangunan yang bekerja untuk Raja Mataram. Orang Kalang memiliki tempat istimewa sebagai saudagar di Kotagede dengan ciri khas tempat tinggal yang megah pada saat itu. Salah satu Rumah Kalang yang masih terawat dengan baik adalah rumah bekas milik B.H. Noerijah. Rumah ini adalah aset Pemda DIY yang ...

Museum Dewantara Kirti Griya Saksi Bisu Munculnya Dasar Pemikiran Pendidikan Tamansiswa

Gambar
             Sebagai seorang bangsawan, sudah seharusnya Raden Mas Soewardi Soerjaningrat menikmati kehidupannya dikelilingi dengan berbagai fasilitas yang mumpuni. Mengenyam pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) dan STOVIA telah dijalani oleh bangsawan Yogyakarta yang lahir pada 2 Mei 1889 ini. Ia kemudian tertarik untuk terjun menjadi wartawan dan menghasilkan beberapa karya yang mengkritik orang-orang Belanda pada saat itu. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda). Karena sikapnya yang keras terhadap perilaku kolonial hingga keterlibatannya dalam Organisasi Budi Utomo dan Indische Partij, ia dibuang ke Belanda. Sepulangnya dari Belanda, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat mengimplementasikan pemikirannya dengan membentuk Perguruan Nasional Tamansiswa ( Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa ) pada 3 Juli 1922. Gambar salah satu koleksi MDKG      ...

Memadukan Unsur Budaya Jawa dan Teknologi ala Gedung Baru Museum Sonobudoyo

Gambar
              Apakah yang anda pikirkan ketika pertama kali mendengar kata “museum”? Sebagian orang akan menganggap bahwa kunjungan museum terdengar membosankan dan dengan koleksi yang itu-itu saja. Namun dengan perkembangan teknologi dan informasi yang pesat, banyak museum di Indonesia memamerkan koleksinya melalui cara yang up to date. Salah satunya adalah Museum Sonobudoyo Yogyakarta.             Museum Sonobudoyo unit I yang berlokasi di dekat Alun-alun Utara Yogyakarta ini sekarang memiliki gedung baru. Koleksi yang ada di dalamnya terdiri dari transportasi, kesenian, topeng, wayang, senjata tradisional, tarian, musik dan rijstaffel (suguhan makan zaman kolonial). Tidak seperti museum kebanyakan, terdapat teknologi video mapping yang menarik untuk dinikmati. Teknologi video mapping adalah Teknik terbaru untuk menghadirkan pengalaman visual melalui video deng...

Flu Spanyol di Nusantara Tahun 1918-1920

Flu Spanyol adalah pandemi yang menyebar ke seluruh dunia pada tahun 1918 sampai 1920. Terdapat beberapa teori dari epidemiologis, salah satunya dari Amerika yang menyebutkan bahwa virus dibawa dari buruh Tiongkok dan Vietnam yang dipekerjakan militer Inggris dan Prancis dalam Perang Dunia I (PD I). Para ahli memberikan alasan bahwa mereka hidup berdekatan dengan burung dan babi. Pendapat ini dikuatkan dengan terjadinya perang yang membuat kualitas udara memburuk. Namun, tidak ada teori dari ahli yang menyebutkan virus ini berasal dari Spanyol. Penamaan “Flu Spanyol” sendiri dikarenakan negara Spanyol menyebarkan informasi pandemi ini secara lengkap. Spanyol tidak menutup-nutupi informasi mengenai pandemi karena menjadi negara netral dalam PD I, sehingga tidak ada kepentingan di dalamnya.              Pandemi ini juga masuk ke Indonesia (dulunya bernama Hindia Belanda) yang kemungkinan besar masuk melalui jalur laut. Pemerint...

Kontinuitas Tradisi Lisan Pondok Wonolelo Hingga Filosofi Kue Apem Dalam Saparan Wonolelo

  Perkembangan sejarah lokal di Indonesia saat ini banyak menarik perhatian khalayak. Selain eksistensinya yang hidup di tengah masyarakat, sejarah lokal bisa menjadi penanda munculnya suatu daerah beserta perilakunya yang diimplementasikan melalui tradisi. Tradisi ini sebagai bentuk kearifan lokal tidak hanya sebagai jati diri daerah namun juga memiliki filosofi yang kental di dalamnya. Sejarah Pondok Wonolelo dan Saparan Wonolelo merupakan salah satu contoh menarik dari bentuk kontinuitas sejarah lokal yang berkembang secara lisan. Pondok Wonolelo berlokasi di Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (Sukesthi, 2013: 34). Bagi masyarakat pondok Wonolelo, nama Ki Ageng Wonolelo tidak asing lagi untuk didengar. Sebuah upacara pengarakan pusaka rutin dilakukan oleh warga setempat untuk menghormati Ki Ageng Wonolelo selaku leluhur dan penggagas dari Pondok Wonolelo ini. Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang, silsilah Ki Ageng Wonolelo ini dapat ...

Menelisik Sejarah dan Potensi Wisata Tradisi Saparan Bekakak Desa Ambarketawang Menuju Kebudayaan Nasional

Gambar
          Berbicara mengenai kekayaan budaya, banyak orang mengamini bahwa Indonesia sebagai juaranya. Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai salah satu wilayah di Indonesia dengan kebudayaan luar biasa memiliki kearifan lokal yang kemudian diberi nama Upacara Adat Saparan Bekakak. Tradisi ini berlokasi di Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman yang sudah ada sejak masa Sultan Hamengku Buwono I. Upacara Adat Saparan Bekakak merupakan sebuah tradisi penyembelihan dua pasang boneka pengantin yang dibuat dari ketan dan diisi dengan cairan gula jawa, kemudian diberi pewarna merah ( juruh ) agar menyerupai darah.   Upacara ini dilakukan sekitar tanggal 10-20, pada hari Jumat pada bulan Sapar dalam penanggalan Jawa. Upacara Saparan Bekakak ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah pendirian Kraton Yogyakarta, dimana saat Kraton Yogyakarta sedang dalam tahap pembangunan, Sultan Hamengku Buwono I bertempat tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang,...