Flu Spanyol di Nusantara Tahun 1918-1920
Flu Spanyol adalah
pandemi yang menyebar ke seluruh dunia pada tahun 1918 sampai 1920. Terdapat
beberapa teori dari epidemiologis, salah satunya dari Amerika yang menyebutkan
bahwa virus dibawa dari buruh Tiongkok dan Vietnam yang dipekerjakan militer Inggris
dan Prancis dalam Perang Dunia I (PD I). Para ahli memberikan alasan bahwa
mereka hidup berdekatan dengan burung dan babi. Pendapat ini dikuatkan dengan
terjadinya perang yang membuat kualitas udara memburuk. Namun, tidak ada teori
dari ahli yang menyebutkan virus ini berasal dari Spanyol. Penamaan “Flu
Spanyol” sendiri dikarenakan negara Spanyol menyebarkan informasi pandemi ini
secara lengkap. Spanyol tidak menutup-nutupi informasi mengenai pandemi karena
menjadi negara netral dalam PD I, sehingga tidak ada kepentingan di
dalamnya.
Pandemi
ini juga masuk ke Indonesia (dulunya bernama Hindia Belanda) yang kemungkinan
besar masuk melalui jalur laut. Pemerintah Hindia Belanda mencatat, virus ini
menyebar melalui penumpang kapal dari Malaysia dan Singapura yang kemudian
menyebar lewat Sumatera Utara. Ketika virus mulai menyerang kota-kota besar di
Jawa pada Juli 1918, pemerintah dan penduduk tidak memperhatikan. Mereka tidak
menyadari bahwa virus tersebut dapat menyebar dengan cepat. Bahkan beberapa surat
kabar menganggap bahwa Flu Spanyol belum berbahaya. Akibatnya, banyak korban
yang berjatuhan dikarenakan kesalahan dan keterlambatan penanganan.
Sikap
pemerintah kolonial yang menganggap enteng virus ini, menyebabkan angka
kematian yang tinggi di Hindia Belanda. Hal ini membuat masyarakat mencari cara
untuk menghalau virus melalui kepercayaan mereka sendiri. Pada saat itu,
masyarakat masih menganggap virus sebagai hal mistis berhantu. Mereka lebih
ingin menghilangkan “hantu” tersebut daripada virusnya. Cara yang dilakukan
adalah pergi ke tempat keramat dengan memanjatkan doa meminta keselamatan,
menjalankan puasa, menjalankan ritual-ritual, serta menyembelih hewan. Kraton
Yogyakarta menggelar ritual arak-arakan pada Desember 1918 dengan membawa
benda-benda pusaka salah satunya Bendera Kyai Tunggul Wulung. Masyarakat
Yogyakarta meyakini bahwa Kyai Tunggul Wulung menebar kesaktiannya untuk
meredakan pageblug.
Dari beberapa usaha dalam mengatasi pandemi Flu Spanyol yang dilakukan di
dunia, cara yang paling efektif adalah dengan membatasi kerumunan dan memutus
akses yang memungkinkan orang berpindah dari satu tempat ke tempat yang jauh.
Cara yang dilakukan relatif sama dengan yang dilakukan negara-negara di dunia
saat ini, yaitu menutup sekolah, melarang pertemuan umum, dan menutup akses
desa-desa dari jalan utama yang dilalui orang dari berbagai penjuru. Hal yang
dapat dipelajari dari Flu Spanyol dalam masa sekarang ini adalah kewaspadaan
yang tinggi terhadap suatu penyakit tanpa meremehkannya. Pola hidup sehat harus
sudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar mencegah adanya penyakit yang
mengintai. Bagi pemangku kebijakan, seharusnya kesehatan masyarakat adalah
menjadi hal utama. Segala pembatasan kerumunan dapat dilaksanakan asal
kebutuhan pokok masyarakat terpenuhi selama kebijakan pembatasan berlangsung.
Semakin kita paham dan belajar dari sejarah, semakin cepat pula kita dapat mengatasi segala masalah yang ada.
Komentar
Posting Komentar