PRAJURIT ESTRI MANGKUNEGARAN, PENGAWAL PEREMPUAN PANGERAN SAMBERNYAWA
Pembentukan dan Kekuatan Prajurit Estri
Pada tanggal 17 Maret 1757 atau bertepatan hari Sabtu Legi tanggal 5 Jumadilawal, tahun Alip Windu Kuntara, tahun Jawa 1638 dilakukan penandatanganan Perjanjian Salatiga antara Sunan Pakubuwana III dengan Raden Mas Said di Salatiga sebagai penanda berdirinya Puro Mangkunegaran. Pada awal didirikannya, Mangkunegaran dipimpin oleh Mangkunegara I yaitu Raden Mas Said atau yang lebih dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa, karena kemampuannya yang hebat dalam berperang . Untuk menghadapi musuh-musuhnya, Pangeran Sambernyawa tidak lepas dari para prajurit dan pengawal yang mumpuni.
Tidak hanya laki-laki, perempuan pada saat itu juga diberi pelatihan untuk mengangkat senjata dan menunggang kuda. Mereka ditugaskan untuk mengawal Pangeran Sambernyawa dan juga dipimpin oleh panglima bernama Matah Ati, yang tidak lain adalah istri dari Pangeran Sambernyawa itu sendiri. Prajurit pengawal ini kemudian memiliki nama Prajurit Estri Mangkunegaran. Prajurit Estri benar-benar dibina dengan serius sehingga mereka menjelma menjadi kekuatan laskar pertahanan dan keamanan praja Mangkunegaran. Kualitas laskar ini tidak kalah dari prajurit laki-laki, bahkan bila sedang memainkan senjata dalam pakaian dinas. Keteranpilan Prajurit Estri dalam menggunakan bedhil bertolak belakang dengan pasukan laki-laki istana, yang terkenal kurang terlatih menggunakan senapan laras panjang dan artileri.
Sebagai pasukan tempur elite, Prajurit Estri Mangkunegaran memiliki kekuatan sebagai berikut:
1. Dalam Praja Mangkunegaran, tidak kurang dari 3.000-4.000 prajurit termasuk Prajurit Estri yang setiap malamnya siap untuk berperang, dan bisa dikerahkan semuanya hanya dalam waktu 3-4 jam.
2. Dalam waktu 3-4 hari bisa disiagakan 10.000 prajurit termasuk Prajurit Estri di seluruh wilayah Mangkunegaran, yang dapat dikerahkan dalam pertempuran.
3. Dalam Praja Mangkunegaran, tidak kurang dari 500 prajurit termasuk Prajurit Estri yang setiap saat selalu bersenjata untuk menanggulangi kesulitan yang sewaktu-waktu muncul.
Prajurit Estri dalam bidang pertahanan dan keamanan memiliki peran yang vital. Dapat dilihat dari beberapa catatan bahwa Prajurit Estri selalu menemani KGPAA Mangkunegara I saat melakukan ekspedisi, maupun ketika raja mengirimkan duta. Pada saat kedatangan tamu, raja diiringi oleh para Prajurit Estri yang terdiri dari para selir, manggung dan ketanggung (calon abdi) sebanyak 60 orang. KGPAA Mangkunegara I memegang komando dengan membawa tongkat berbahan kayu waru yang bercat kuning dengan belang-belang. Semua Prajurit Estri berpakaian cinde merah, dada tertutup kain bangun tulak tepen (dengan pinggiran), baju saten hijau potongan pranakan, berikat pinggang, sanggul besar dengan cunduk mentul (tusuk sanggul berhias) masing-masing tiga buah, memakai kalung dan menyandang vaandel (duaja) dan karben (karabijn; bedhil berlaras pendek).
Pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, pejabat senior VOC mengakui keterampilan Prajurit Estri sebagai prajurit berkuda. Jan Greeve, Gubernur Pantai Timur Laut Jawa ( 1743/4-1793, menjabat 1787-1791) menulis buku harian tentang kunjungan ke Surakarta pada 31 Juli 1788. Greeve disambut di Loji Belanda dan di kediaman Mangkunegaran, dimana prajurit perempuan menembakkan salvo "dengan teratur dan tepat sehingga membuat kita kagum" sambil "menembakkan senjata tangannya (karben kavaleri) sebanyak tiga kali dengan sangat tepat.... diikuti tembakan senjata kecil (artileri/meriam ringan medan buatan Jawa untuk pasukan berkuda) lainnya yang diletakkan disamping mereka...."
Bidang Organisasi
Jumlah Prajurit Estri di bawah kepemimpinan KGPAA Mangkunegara I sangat sedikit, namun dalam lingkungan istana pasukan siap tempur tersedia sekitar 600 orang jika sewaktu-waktu dalam bahaya. Prajurit Estri dibedakan menjadi beberapa brigade (bregada), antara lain seperti Angkatan laut yang digolongkan menjadi: Sarageni, Sinelir, Jayengasta, Landrangmanungkung dan brigade Angkatan Darat. Dalam setiap pasukan juga dikibarkan duplikat bendera Pangeran Sambernyawa. Meskipun gagah dan perkasa di medan perang, Prajurit Estri tetap lemah lembut ketika bertugas sebagai abdi dalem, karena mereka sejatinya halus dan mengukuhi tradisi-tradisi layaknya perempuan Jawa.
Sebagai Abdi Dalem
Prajurit Estri KGPAA Mangkunegara I memiliki tugas di luar tugasnya sebagai prajurit, yaitu sebagai abdi dalem. Pada saat bertugas sebagai abdi dalem, Prajurit Estri berkewajiban memelihara panah dan memberi cat. Tugas lain adalah menjahit busana hadiah bagi wadya bala di hari Garebeg, Puasa, dan Maulud. Meskipun tugas utama di bidang militer, namun terdapat pula tugas-tugas non militer seperti menanam padi, memperbaiki gedung Kraton, melakukan pembangunan irigasi dan membuang tinja. Dalam mengerjakan tugasnya, Prajurit Estri dibantu oleh abdi dalem lainnya, bahkan para selir memiliki tugas untuk memasang bulu pada anak panah dan mewarnai endhong (tempat menyimpan panah). Banyaknya tugas yang diemban membuat mereka tidak memiliki banyak waktu untuk urusan pribadi. Hal itu karena selain menjadi prajurit dengan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki, Prajurit Estri sebagai abdi dalem juga harus tanggap, pandai, dan menguasai ajaran kebaikan serta menyimpan rahasia. Tingkah laku yang baik diperhatikan karena sering bersinggungan dengan keluarga kerajaan.
Selain itu, abdi dalem juga dituntut menguasai pengetahuan jamu-jamu tradisional sebagai perawatan tubuh maupun pengobatan. Beberapa abdi dalem bertugas menyiapkan ramuan perawatan tubuh putri-putri penghuni Keputren Mangkunegaran. Keberadaan adi dalem perempuan merupakan suatu keistimewaan karena mereka mendapat kesempatan untuk mengabdi kepada keluarga kerajaan. Para abdi dalem wanita sadar bahwa keberadaan mereka sangat dibutuhkan dalam lingkungan Kraton meskipun mereka bukanlah orang-orang yang penting dalam ketataprajaan Mangkunegaran.
Seragam atau Pakaian Prajurit Estri
Pada saat pertempuran, Prajurit Estri berpakaian layaknya prajurit pria. Prajurit Estri menggunakan celana panjang sampai ke bawah lutut dengan membawa keris serta tombak dan juga busur beserta anak panahnya. Setelah pertempuran, para prajurit memakai pakaian perempuan berwarna putih untuk berlatih memanah. Selain itu, mereka juga berlatih tembakan salvo agar bisa menembakannya secara rapi dan teratur.
Pakaian yang digunakan Prajurit Estri pada saat Pangeran Sambernyawa kedatangan tamu kehormatan adalah memakai cinde merah, dada ditutupi kain bangun tulak tepen (dengan pinggiran), baju saten hijau potongan pranakan, berikat pinggang, sanggul besar dengan cunduk mentul (tusuk sanggul hias)masing-masing tiga buah, memakai kalung dan menyandang vaandel (duaja) dan karben (karabijn; bedhil berlaras pendek). Para prajurit tersebut membawa tambur, selompret, dan seruling.
Pakaian yang digunakan dibagi menurut kesatuannya sendiri-sendiri. Contohnya terdapat para prajurit selir yang memakai celana, kemeja takwa sikepan, cundhuk jungkat (sisir hias), gelung kedhal menek, sabuk cinde lengkap, nglambung dhuwung damplak model keris Bali, kalung, subang, cincin, menggendong panah dan membawa busur. Kemudian warnanya juga berbeda-beda, seperti Sarageni yang serba merah, Landrangmanungkung yang serba ungu, dan Jayengasta yang serba biru-nila. Semua Prajurit Estri memakai celana tanggung sebatas lutut dan dirangkap dengan kain panjang model parang. Hanya satu yang memakai tutup kepaladan pakaian komandan perang yaitu komandan itu sendiri.
Perpolitikan
Peran yang dimiliki oleh Prajurit Estri akan semakin tampak bila dilihat dari ekspedisi-ekspedisi yang dilakukan oleh KGPAA Mangkunegaran I. Begitu pula saat Mangkunegara I mengirimkan duta-dutanya, para carik estri ini selalu turut serta. Hal ini yang menjadikan peran Prajurit Estri dalam perpolitikan Mangkunegaran menjadi sangat berpengaruh. Salah satu tokoh perempuan pada masa Mangkunegara I adalah Mbok Ajeng Wiyah yang mengetahui seluk beluk rajanya dan wawasannya yang luas sebagai pendamping senopati yang tengah memperjuangkan eksistensinya.
Rumah Tangga
Kedudukan Prajurit Estri di dalam rumah tangga selayaknya perempuan dalam masyarakat Jawa. Seorang perempuan dalam perannya sebagai istri antara lain adalah gemi, nastiti, dan awedi. Gemi adalah sikap hemat dan cermat dalam mengatur lalu lintas ekonomi keluarga. Nastiti berarti bersikap hati-hati, cermat dan penuh perhatian dalam mengambil tindakan. Awedi berarti takut untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan norma-norma yang ada. Apabila Prajurit Estri ini belum menikah atau berkeluarga, biasanya mereka masih tinggal bersama kedua orang tuanya. Dalam keluarga ia berkedudukan sebagai anak yang harus menurut dan taat terhadap segala aturan keluarga. Sebagai anak permpuan dalam keluarga harus dapat mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Misalnya memasak, membersihkan dan merawat lingkungan rumahnya. Dalam kehidupan sosial juga harus bida bergaul secara luwes dengan tetangganya. Di samping itu ia juga harus mengabdi kepada rajanya.
Sumber
Frans Magnis Suseno. 1988. Etika Politik, Jakarta: Penerbit PT Gramedia.
Gusti Kanjeng Ratu Hemas. 1992. Wanita Indonesia. Suatu Konsepsi dan Obsesi,
Yogyakarta: Penerbit Liberty.
Kuntowijoyo. 2008. Penjelasan Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.
KRT. Sarjono Darmosarkoro. 1989. Sejarah Singkat dari Keteladanan Pangeran
Sambernyawa, Surakarta: Reksopustoko Mangkunegaran.
NN. 2008. Peringatan 39 Tahun Yayasan Mangadeg Surakarta 28 okt 1969-28
okt 2008, Surakarta: Yayasan Mangadeg.25
NN. 1989. Pangeran Sambernyawa (KGPAA Mangkunegara I) Ringkasan
Sejarah Perjuangan. Surakarta: Yayasan Mangadeg.
NN. 1974. Tri Darma,Tiga Dasar Perjuangan Pangeran Sambernyawa, Surakarta:
Yayasan Mangadeg.
Peter Carey. 2012. Kuasa Ramalan; Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan
Lama di Jawa, 1785-1855. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Sartono Kartodirdjo. 1993. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Komentar
Posting Komentar