Museum Dewantara Kirti Griya Saksi Bisu Munculnya Dasar Pemikiran Pendidikan Tamansiswa

            Sebagai seorang bangsawan, sudah seharusnya Raden Mas Soewardi Soerjaningrat menikmati kehidupannya dikelilingi dengan berbagai fasilitas yang mumpuni. Mengenyam pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) dan STOVIA telah dijalani oleh bangsawan Yogyakarta yang lahir pada 2 Mei 1889 ini. Ia kemudian tertarik untuk terjun menjadi wartawan dan menghasilkan beberapa karya yang mengkritik orang-orang Belanda pada saat itu. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda). Karena sikapnya yang keras terhadap perilaku kolonial hingga keterlibatannya dalam Organisasi Budi Utomo dan Indische Partij, ia dibuang ke Belanda. Sepulangnya dari Belanda, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat mengimplementasikan pemikirannya dengan membentuk Perguruan Nasional Tamansiswa (Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa) pada 3 Juli 1922.

Gambar salah satu koleksi MDKG

            Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara mendirikan Tamansiswa awalnya berlokasi di Jalan Tanjung No. 28 Yogyakarta (Sekarang Jalan Gajah Mada). Seiring berjalannya waktu, Kompleks Tamansiswa berpindah di Jalan Tamansiswa No. 31 Yogyakarta pada 14 Agustus 1934. Tempat ini juga merupakan Lokasi berdirinya Museum Dewantara Kirti Griya yang diresmikan pada 2 Mei 1970. Museum Dewantara Kirti Griya (MDKG) merupakan bekas rumah dari Ki Hadjar Dewantara, tempat ia berkarya mengembangkan Perguruan Tamansiswa. Museum ini memiliki 6 ruangan beserta tema di antaranya: Ruang Tidur Khusus (Ki Hadjar Dewantara: Aktivis Anti-Kolonial), Ruang Keluarga (Filsafat Tamansiswa), Ruang Tamu Utama (Konsep Pendidikan Ki Hadjar), Ruang Kerja Ki Hadjar (Ki Hadjar: Pahlawan Nasional), Kamar Tidur Ki & Nyi Hadjar (Tamansiswa dan Perjuangan Hak Perempuan), dan Kamar Tidur Putri (Pendidikan Melalui Seni & Budaya).

            Tidak hanya museum, MDKG juga memiliki perpustakaan yang berisi buku-buku maupun karya khususnya mengenai Perguruan Tamansiswa. Museum ini tidak mematok biaya tiket, hanya dana sukarela bagi yang ingin memberikan sudah disediakan kotak kecil di area ruang keluarga. Jam kunjung museum ini adalah Senin-Sabtu (kecuali Jumat) pukul 08.00-13.30 WIB, dan hari Jumat pukul 08.00-11.00 WIB. Anda juga dapat menelusuri Perguruan Tamansiswa seperti Pendopo, sekolah, dan Kampus Seni Rupa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa yang masih satu kompleks dengan MDKG. Dengan mengunjungi museum ini, anda akan mendapatkan banyak informasi mengenai kiprah Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan dan Pahlawan Nasional Indonesia. Selamat berkunjung!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memadukan Unsur Budaya Jawa dan Teknologi ala Gedung Baru Museum Sonobudoyo

AGAMA SIKH: SEJARAH, AJARAN, DAN SEPAK TERJANGNYA DI INDIA

SEJARAH SINGKAT KEPOPULERAN IKAN CUPANG DAN JENIS-JENISNYA DI INDONESIA