SEJARAH PENDIDIKAN ZENDING PADA TAHUN 1916-1945 DI SURAKARTA
Sebelum huruf latin dikenal di Nusantara, orang-orang Nusantara sudah terlebih dahulu mengenal huruf Pallawa dari India. Namun karena pemakaiannya yang terbatas, tak semua orang Indonesia bisa membaca dan menulis dengan menngunakan huruf tersebut. Kemudian setelah Islam datang, orang-orang Indonesia mulai mengenal huruf Arab. Guru agama yang ada di surau-surau atau kyai di pesantren-pesantren ikut menyebarkannya. Huruf latin yang ada di Indonesia datang setelah itu. Orang-orang Portugis dan Belanda yang datang ke Indonesia memperkenalkannya kepada orang-orang Indonesia. Sekolah adalah hal baru yang dibawa oleh Antonio Galvao, Gubernur Portugis di Maluku.
Setelah datangnya VOC, pendidikan mengalami perkembangan meskipun tak pesat. Meski sekolah-sekolah tersebut berdiri pada zaman VOC, hampir semua murid tidak bisa berbahasa Belanda, akhirnya bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar dalam pengajaran di sekolah-sekolah tersebut. Setelah VOC bubar, dibangunlah sekolah-sekolah untuk pribumi non-Kristen pada abad ke-19. Menteri jajahan J.C. Baud mengirim nota pada 16 Januari 1845 yang memerintahkan pembangunan sekolah dasar non-Kristen.
Pada tahun 1852, terdapat 20 sekolah dasar di karesidenan-karesidenan di Pulau Jawa. Jumlah tersebut semakin berkembang menjadi 533 sekolah dasar negeri untuk pribumi. Pada zaman kolonial dimana sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial berdiri, sekolah-sekolah Kristen dikelola oleh zending sebagai sarana untuk Kristenisasi terkhusus di pulau Jawa. Surakarta menjadi salah satu wilayah yang menjadi perhatian dalam pendidikan yang dikelola zending.
Pemerintah kolonial Belanda membutuhkan tenaga pribumi dalam menjalankan kekuasaannya di Surakarta. Oleh karena itu mereka mulai mengembangkan sekolah-sekolah yang ada. Hal ini dilakukan dengan bantuan zending yang melaksanakan Kristenisasi melalui pendidikan dan kesehatan. Bagi masayarakat Surakarta, pendidikan yang dikelola oleh zending ini dapat membantu memperbaiki kehidupan mereka. Karena jika telah menyelesaikan pendidikannya, para murid dapat bekerja di bagian administrasi dalam pemerintahan kolonial.
Awal Kristenisasi Melalui Pendidikan
Sejarah telah membuktikan bahwa Kristenisasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kolonialisme dan memberi pengaruh bagi bangsa Indonesia. Agama Kristen datang seiring dengan menyebarnya kolonialisme Barat dari sisi Belanda maupun Portugis. Misi penyebaran agama Kristen terus diusahakan ketika tanah jajahannya masih memiliki kepercayaan lain.
Pada daerah-daerah di Nusantara yang berhasil ditaklukkan, pihak kolonial memfasilitasi pendirian sekolah-sekolah Kristen. Zending dibawa oleh Belanda sebagai tandingan dari misionaris Portugis yang lebih dulu tersebar khususnya di Maluku. Memasuki abad ke-17 Belanda berhasil mengambil alih kekuasaan dari Portugis di Maluku. Kemudian Belanda juga berhasil menguasai pulau-pulau lain, terutama pulau Jawa. Mereka bersatu dalam kongsi dagang Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Sebagai organisasi dagang swasata, VOC kurang melibatkan diri dalam kegiatan pendidikan dan menyerahkannya kepada gereja. Pendidikan yang dilakukan hanya berdasarkan kepentingan VOC saja. Misalnya perkembangan agama Kristen melalui pendidikan sebagai sarana untuk membina dan meningkatkan loyalitas penduduk pribumi kepada penguasa baru, yaitu orang-orang Belanda.
Jumlah sekolah Kristen semakin bertambah dan menyebar di berbagai wilayah di Indonesia setelah lembaga-lembaga zending Eropa berdatangan pada pertengahan abad ke-19. Dalam melakukan zending, para zendeling membukanya dengan sekolah dan lembaga kesehatan untuk menarik hati pribumi yang awalnya menolak Kristenisasi. Jawa merupakan salah satu wilayah fokus upaya Kristenisasi yang dilakukan oleh Belanda, tak terlepas dari itu yaitu Surakarta.
Pendidikan Zending di Surakarta
Semenjak dijalankannya Politik Etis, terdapat adanya kemajuan dalam bidang pendidikan. Sebelumnya di Hindia Belanda hanya terdapat dua macam sekolah yang didirikan pada tahun 1892, yaitu Sekolah Angka I khusus untuk anak bumiputra terkemuka dan sekolah Angka Dua untuk anak-anak bumiputra pada umumnya. Pendidikan di Hindia Belanda mulai mendapat perhatian khusus dalam dua dasawarsa pertama setelah tahun 1900. Dalam perkembangan ini, organisasi pekabaran Injil Zending Gereformeerd di Hindia Belanda memanfaatkannya untuk melakukan pekabaran Injil melalui lembaga pendidikan. Kemunculan organisasi ini tidak lepas dari peran pemerintah Kolonial Belanda. Pemberian izin mendirikan sekolah-sekolah Kristen pada tahun 1916 di Surakarta semakin memperjelas bahwa pemerintah Hindia Belanda sudah mulai terbuka terhadap kegiatan Kristenisasi yang dilakukan di Surakarta. Pendidikan yang dikelola oleh zending sangat diminati oleh kalangan bumiputra karena sistem pengajarannya yang modern. Alasan selain itu adalah sistem pemerintahan Hindia Belanda hanya dapat mengangkat pegawai dari orang-orang yang telah menyelesaikan studinya di sekolah-sekolah yang menggunakan sistem kolonial.
Gereja-gereja Protestan yang bergabung dalam suatu masyarakat misionaris bertujuan untuk menghindari persaingan yang tidak sehat, sehingga zending yang datang ke tanah Jawa Tengah khususnya bagian selatan dipimpin oleh Zending Gereformeerd. Gereja-gereja yang ada di Jawa terikat dengan gereja-gereja di Belanda, begitu pula dengan zending. Zending Gereformeerd mempunyai struktur seperti dalam tata gerejani, yaitu Zending Gereformeerd, General Sinode, Particular Sinode, Clasis, dan Gereja (jemaat setempat).
Setelah mendapatkan izin , para zendeling mulai mengabarkan Injil secara tidak langsung melalui lembaga pendidikan dan kesehatan. Izin untuk mendirikan sekolah Kristen di Surakarta diprakarsai oleh Van Andel dan beberapa rekannya melalui kelompok yang bernama “Vereniging tot Oprichting en Instandhoying van Christelyke Schoolen en Internaten te Surakarta” yang mengadakan rapat pada tanggal 25 Juli 1916 di Surakarta. Permohonan yang telah dirapatkan kemudian diajukan kepada Gubernur Jenderal di Hindia Belanda atas sepengetahuan Residen Surakarta.
Wilayah kekuasaan Mangkunegaran menjadi lokasi dibangunnya sekolah-sekolah zending. Daerah kekuasaan Mangkunegaran di Surakarta adalah daerah kecamatan Banjarsari. Mereka mendirikan sekolah di lokasi-lokasi yang berpotensi dan dianggap strategis di wilayah Surakarta. Pendirian sekolah-sekolah Kristen ini mempunyai hubungan dengan organisasi yang ada di negeri Belanda. Tujuan didirikannya sekolah-sekolah zending ini selain untuk pekabaran Injil adalah memperbaiki dan membantu perbaikan kualitas pendidikan di Surakarta.
Sekolah-sekolah zending didirikan di Surakarta diawali ketika wilayah kerja Zending Gereformeerd diperluas dan para guru utusan zending mulai bergerak ke wilayah Kedu dan Surakarta yang merupakan wilayah Jawa Tengah bagian selatan pada tahun 1910-1913. Wilayah kerjanya diluaskan meliputi daerah Kasunanan dan Mangkunegaran. Pada awalnya daerah Surakarta sudah cukup lama menjadi daerah yang dilarang atas pekabaran Injil karena pemerintah Hindia Belanda takut jika pekabaran Injil dilakukan di daerah tersebut maka akan berdampak pertikaian dengan Sri Susuhunan Pakubuwana X dan Sri Mangkunegoro yang beragama Islam. Setelah dilaksanakannya politik etis, ada desakan yang kuat dari masyarakat Surakarta untuk dibangunnya sekolah Kristen dan rumah sakit. Beberapa pendeta juga meminta izin agar larangan pekabaran Injil dicabut supaya rakyat Surakarta dapat memeluk agama Kristen.
Pekabaran Injil melalui pendidikan merupakan upaya yang efektif karena pendidikan merupakan kebutuhan yang penting bagi masyarakat Surakarta. Hal ini didukung dengan prinsip sekolah-sekolah tersebut yang tidak menarik keuntungan di dalamnya. Sejak zending bekerja dalam misi pekabaran agama Kristen, pendidikan merupakan alat untuk mengkabarkan Injil kepada masyarakat pribumi secara tidak langsung. Selain itu, tujuannya adalah mencerdaskan penduduk pribumi melalui bidang pendidikan. Pada waktu itu, secara struktural sekolah Kristen di bawah organisasi zending yang mempunyai hubungan harus mengikuti keinginan dari para pendeta. Untuk daerah Surakarta tersendiri bidang pendidikan di bawah pengawasan pendeta utusan Van Andel.
Kegiatan zending di Hindia Belanda pada dasarnya mempunyai dua tugas yaitu di bidang pendidikan dan kesehatan. Dalam kedua bidang tersebut awalnya melalui utusan dari negeri Belanda yang disebut dengan Zendeling leerar (utusan pekabar Injil) serta Zendeling onderwijs (utusan pengajaran). Tahap berikutnya diikuti oleh Zendeling Diacoon (utusan mantra perawat) dan Zendeling Arts (utusan dokter). Sekolah-sekolah Kristen didirikan tidak hanya sekedar memberikan pengajaran pada siswa-siswanya melainkan juga sebagai upaya untuk menyebarkan agama Kristen di Hindia Belanda.
Sampai tahun 1920 pemerintah Belanda tidak menyediakan pendidikan tingkat lanjut sebagai persiapan ke universitas. Namun, pada akhir 1920-an, lembaga tingkatan lanjut pertama dan atas didirikan oleh zending saat pemerintah membuka kesempatan itu. Pengajaran pada sekolah sekolah Kristen dibagi menjadi dua yakni bagian pertama adalah mendidik mereka yang akan menjadi guru dan jururuwat. Kemudian yang kedua adalah khusus untuk calon guru Injil, dididik untuk belajar tugas pekabaran Injil. Orang-orang yang dicalonkan adalah mereka yang sudah lulus bagian pertama dan sudah bekerja beberapa tahun lamanya menjadi seorang guru sekolah atau jururuwat dan merupakan orang Kristen yang baik. Pada awalnya sekolah Keuchenius berada di Purworejo, namun pada tahun 1905 sekolah tersebut harus pindah ke Yogyakarta. Lulusan dari sekolah Keuchenius banyak yang menjadi guru sekolah dan guru Injil. Mereka juga bekerja untuk zending di sejumlah sekolah Kristen di Surakarta.
Dapat dikatakan bahwa Kristenisasi melalui pendidikan merupakan hasil yang besar bagi pekabaran Injil di Surakarta. Para orang tua beranggapan bahwa sekolah-sekolah zending merupakan satu-satunya sekolah yang dapat memberikan ilmu-ilmu Barat kepada anak-anak mereka dengan biaya pendidikan sedikit karena mendapatkan subsidi yang begitu besar dari pemerintah kolonial.
Kurikulum yang Digunakan
Kurikulum yang diterapkan oleh zending dalam mengelola pendidikan terdiri atas pelajaran membaca, menulis, hitung cacah, bahasa Belanda, ilmu Bumi, sejarah, ilmu alam, pendidikan jasmani, menggambar, bahasa Jawa, dan menyanyi. Bagi yang ingin menjadi guru ataupun pekabar Injil akan mendapatkan pelajaran tambahan. Pada sore hari murid-murid di sekolah zending diberikan tambahan pelajaran yakni Bahasa Inggris dan Bahasa Perancis. Pelajaran agama Kristen dimasukkan dalam sistem pengajaran sekolah tersebut.
Dalam melaksanakan usahanya untuk melakukan Kristenisasi melalui lembaga pendidikan maka diperlukan tenaga profesional. Tenaga profesional tersebut yaitu guru yang telah dilatih secara khusus. Zending juga mewajibkan supaya guru-guru sekolah dapat merangkap sebagai pelayan jemaat, oleh karena itu para guru memerlukan pendidikan dan pelatihan secara khusus. Sinode Gereformeerd yang melakukan sidang di Rotterdam pada tahun 1917 memerintahkan untuk mendirikan sekolah calon guru yang dinamakan “De Christelijke Hollandsch Inlandsche Kweekschool” atau HIK yang ditempatkan di Surakarta. Kurikulum yang ada di sekolah ini terbagi menjadi dua yaitu teori dan praktek. Keduanya terdiri dari dua bagian mata pelajaran, yaitu mata pelajaran pendidikan umum serta mata pelajaran agama dan Alkitab. Mata pelajaran yang terdapat pada HIK terdiri dari:
a.Vak Agama (Bijbelsche Vakken)
b.Sejarah Kitab Suci (Bijbel Geschiedenis)
c.Ilmu Bumi Kitab Suci (Bijbel Aardrijkskunde)
d.Sejarah Gereja (Kerk Geschiedenis)
e.Pengetahuan Kitab Suci (BIjbelkennis)
f.Dogmatika (Geloofsler)
g.Vak Umum (Schoolen Vakken)
h.Bahasa Jawa (Javaansch Taal)
i.Bahasa Melayu (Maleisch Taal)
j.Menulis Halus (Schrijven)
k.Ilmu Bumi (Aardrijkunde)
l.Ilmu Ukur (Vorm I)
m.Ilmu Mengajar (Op Voedkunder)
n.Berhitung (Rekenen)
o.Sejarah (Geschiedenis)
p.Ilmu Alam (Natuur Kunde)
q.Menyanyi (Zang)
r.Menggambar (Teekenen)
Dampak Bagi Masyarakat Surakarta
Jumlah penduduk beragama Kristen di Jawa Tengah bagian selatan pada tahun 1918 sampai dengan 1925 melonjak signifikan. Dapat dikatakan bahwa pekabaran Injil dilakukan dengan hati-hati dan damai sesuai dengan ajaran Alkitab. Pertumbuhan jumlah penduduk beragama Kristen pada tahun berikutnya juga melonjak tajam di Surakarta. Telah ditunjukkan bahwa jumlah warga Kristen terus meningkat tiap tahun. Hal ini dikarenakan usaha yang dilakukan zending melalui sekolah-sekolah Kristen yang telah didirikan. Daerah Surakarta termasuk daerah yang subur untuk melakukan Kristenisasi dibandingkan dengan daerah-daerah di Jawa yang lainnya. Jumlah warga Surakarta yang kemudian beralih ke agama Kristen melalui sekolah-sekolah memang perbandingannya masih sangat kecil dengan jumlah penduduk Surakarta, walau demikian hasil yang dicapai merupakan capaian yang cukup besar. Dengan pendidikan dan pelayanan kesehatan dari zending membuat masyarakat Surakarta beranggapan bahwa agama Kristen merupakan agama yang baik terlepas dari kolonialisme yang dilakukan oleh Belanda.
Dengan adanya hal tersebut maka kegiatan yang dilakukan oleh zending mendapat reaksi dari masyarakat Jawa yang mempunyai keislaman kuat. Mereka menghimpun diri dengan nama Muhammadiyah di Yogyakarta dan Sarekat Islam di Surakarta. Dengan kegiatan zending yang sudah ada tersebut mendorong Muhammadiyah dan Sarekat Islam juga mendirikan rumah sakit dan sekolah yang cara kerjanya kurang lebih sama dengan zending.
Memang dari penyelenggaran sekolah-sekolah yang dikelola oleh zending hasilnya tidak dapat diketahui secara langsung melalui gereja. Di gereja hasil usaha pekabaran Injil dapat diketahui melalui daftar yang tertulis dalam buku induk Gereja. Namun dari hasil data yang didapatkan, dapat disimpulkan bahwa dari tahun 1916 sampai 1942 jumlah orang Kristen terus mengalami pertumbuhan. Hal ini dikarenakan usaha dari para zending dalam melakukan pejabaran Injil melalui pendidikan dan kesehatan mulai dikembangkan dalam periode tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
J.D. Wolterbeek. 1995. Babad Zending di Pulau Jawa, (Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen).
S.Nasution. 1995. Sejarah Pendidikan Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia).
Soekotjo, S.H. 2010. Tata Injil di Bumi Muria, (Semarang: Pustaka Muria).
Skripsi:
Bekti Utaminingsih Dwikawarna. 1989. “Kehidupan Zending Gereformeerd di Surakarta” (Studi Sejarah Sosial Budaya) Jurusan Ilmu Sejarah FIB UNS. Surakarta.
Haryo Prabancono. 2012. “Pelayanan Kesehatan dan Misi Keagamaan Rumah Sakit Zending Jebres Surakarta Tahun 1912-1942” Jurusan Ilmu Sejarah FIB UNS. Surakarta
Listyarini Dyah Wulandari. 2011. “Zending: Kristenisasi di Margorejo Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati Tahun 1852-1942.” Jurusan Sejarah UNS. Surakarta.
Sri Wardani. 2006. “Sekolah Tiong Hwa Hwee Kwan dan Hollandsch Chineesch School di Surakarta” Jurusan Sejarah FIB UNS. Surakarta.
Komentar
Posting Komentar