Menelisik Sejarah dan Potensi Wisata Tradisi Saparan Bekakak Desa Ambarketawang Menuju Kebudayaan Nasional


        Berbicara mengenai kekayaan budaya, banyak orang mengamini bahwa Indonesia sebagai juaranya. Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai salah satu wilayah di Indonesia dengan kebudayaan luar biasa memiliki kearifan lokal yang kemudian diberi nama Upacara Adat Saparan Bekakak. Tradisi ini berlokasi di Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman yang sudah ada sejak masa Sultan Hamengku Buwono I. Upacara Adat Saparan Bekakak merupakan sebuah tradisi penyembelihan dua pasang boneka pengantin yang dibuat dari ketan dan diisi dengan cairan gula jawa, kemudian diberi pewarna merah (juruh) agar menyerupai darah.  Upacara ini dilakukan sekitar tanggal 10-20, pada hari Jumat pada bulan Sapar dalam penanggalan Jawa. Upacara Saparan Bekakak ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah pendirian Kraton Yogyakarta, dimana saat Kraton Yogyakarta sedang dalam tahap pembangunan, Sultan Hamengku Buwono I bertempat tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang, Kecamatan Gamping.  Upacara ini dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur dan meminta berkah keselamatan bagi para penambang batu kapur di Gunung Gamping yang kerap dilanda musibah longsor. Hal ini dilakukan dengan latar belakang kisah menghilangnya jasad Ki dan Nyi Wirosuto yang pada saat itu merupakan abdi dalem dari Sultan Hamengku Buwono I saat berada di Pesanggrahan Ambarketawang.

Gambar 1. Salah satu ogoh-ogoh Bekakak

        Desa Ambarketawang dalam sejarahnya memiliki hubungan erat dengan Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Desa ini menjadi pesanggrahan Sultan Hamengku Buwono I sebagai raja pertama Yogyakarta sebelum kraton selesai dibangun. Desa Ambarketawang terbentuk setelah pembangunan pesanggrahan sementara yang diperintahkan oleh Pangeran Mangkubumi (Sultan HB I) pada 9 Oktober 1755. Pesanggrahan Ambarketawang menjadi tempat sementara untuk menjalankan pemerintahan, sekaligus sebagai tempat untuk mengambil bahan-bahan pembangunan Kraton Yogyakarta. Pembangunan Kraton Yogyakarta akhirnya selesai pada 7 Oktober 1756. Pangeran Mangkubumi kemudian membawa seluruh keluarganya untuk pindah menuju kraton yang baru. Dengan ini, tanggal 7 Oktober 1756 ditetapkan sebagai hari jadi kota Yogyakarta.

            Pesanggrahan Ambarketawang yang telah ditinggalkan oleh Sultan kini dipercayakan kepada abdi dalem kraton, yaitu Ki Wirosuto. Ki Wirosuto bersama istrinya Nyi Wirosuto tidak tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang, namun menempati sebuah goa di Gunung Gamping. Pada bulan purnama, tepatnya hari Jumat Kliwon terjadi bencana yaitu longsornya Gunung Gamping. Tersiar kabar bahwa pasangan suami istri abdi dalem Ki dan Nyi Wirosuto menjadi korban bencana tersebut. Ki dan Nyi Wirosuto tidak dapat ditemukan meskipun anak-anak mereka dapat menyelamatkan diri dari musibah tersebut. Mendengar kabar tersebut Sultan HB I yang sangat menyayangi kedua abdinya tersebut ikut bersedih dan memerintahkan prajuritnya untuk melakukan penggalian di reruntuhan Gunung Gamping guna mencari jasad Ki dan Nyi Wirosuto. Dalam usaha pencarian yang dilakukan, kedua jasad abdi dalem itu tidak satupun yang dapat ditemukan. Dengan berat hati, Sultan akhirnya menghentikan pencarian tersebut dan mengikhlaskannya.

            Namun, kejadian longsor di Gunung Gamping tidak berhenti di situ saja. Pada tahun-tahun selanjutnya di tanggal yang sama, Gunung Gamping selalu longsor dan memakan korban. Kepercayaan masyarakat Jawa akan hal gaib yang masih cukup kental kala itu membuat mereka berkeyakinan bahwa arwah dari Ki dan Nyi Wirosuto masih tinggal di Gunung Gamping dan belum tenang. Atas sabda Sultan kemudian diadakan upacara Saparan guna menolak bala yang ada di Gunung Gamping. Akhirnya tradisi penyembelihan Bekakak atau sepasang boneka pengantin ini mulai dilakukan sebagai ganti dari korban yang diminta oleh penunggu Gunung Gamping (Nyi Poleng). Semenjak diadakan Upacara Saparan tersebut Gunung Gamping tidak pernah longsor kembali.

            Dalam upacara tradisi Saparan Bekakak, terdapat beberapa lokasi yang digunakan sebagai tempat ritual. Tempat-tempat tersebut diidentifikasi berdasarkan tahap pelaksanaan dari upacara yaitu Midodareni, Kirab, Nyembeleh Bekakak, dan Sugengan Ageng. Pada upacara midodareni, tempat pelaksanaannya di Balai Desa Ambarketawang. Upacara midodareni berlokasi di rumah Ki Juru Permana, Dusun Patran, Ambarketawang. Ki Juru Permana merupakan salah satu keturunan dari Ronggo Prawirosentiko, yang merupakan senopati dari Sultan HB I dan memiliki andil dalam pembangunan Pesanggrahan Ambarketawang. Selanjutnya adalah prosesi kirab yang dilaksanakan dari Balai Desa menuju tempat penyembelihan melalui jalan yang sudah ditetapkan. Prosesi ini yang paling banyak menyita perhatian masyarakat karena terdapat arak-arakan budaya termasuk ogoh-ogoh genderuwo. Setelah itu adalah penyembelihan pengantin Bekakak yang dilaksanakan di mulut goa Gunung Gamping. Terakhir adalah prosesi Sugengan Ageng yang dilaksanakan di Pesanggrahan Ambarketawang.

              Upacara Adat Saparan Bekakak dalam perkembangannya mengalami transisi perubahan makna. Kesakralan Bekakak lambat laun disesuaikan dengan perkembangan zaman melalui gubahan sebagai bentuk mempertahankan kearifan lokal (modernisasi). Contoh dari perubahan tersebut seperti pakaian pengantin Bekakak yang awalnya memakai pakaian penambang gamping diubah menjadi pakaian adat Yogyakarta. Kemudian dibentuk pula panitia setelah sebelumnya urusan prosesi dilakukan oleh abdi dalem. Modernisasi yang ada juga terjadi pada implementasi pendukung prosesi Saparan Bekakak. Kirab-kirab pendukung mulai muncul melalui banyak komunitas pemuda. Selain itu, hiburan malam juga tersaji seperti adanya bazaar hasil bumi, pasar malam, pentas dangdut, serta pertunjukkan wayang kulit. Masyarakat sekarang ini terutama bagi anak muda memiliki pemikiran yang lebih rasional dan membuat mereka memiliki pandangan lain terhadap suatu prosesi. Dalam pelaksanaannya di masa kini berbeda dengan penerapannya pada masa lampau yang hanya sekedar berbentuk rangkaian upacara adat biasa yang sakral. Pemikiran rasional generasi selanjutnya mencoba memanfaatkan momen ini untuk meningkatkan perekonomian dan mengenalkan potensi wilayah khususnya di sekitar Kecamatan Gamping. Namun pelestarian dan pembinaan nilai-nilai luhur yang didapat dari tradisi ini tetap dipertahankan karena banyak pesan kehidupan yang terkandung di dalamnya dan mulai dipandang sebagai sebuah simbol rekreatif dan tontonan yang bernilai ekonomis untuk pengembangan daerah.


Gambar 2. Salah satu ogoh-ogoh Bekakak

     

      Sejak pertama kali diselenggarakan, upacara Bekakak telah mengalami perkembangan yang signifikan, baik dari segi personil maupun segi transportasi yang digunakan. Dari segi personil, pada awalnya upacara adat ini hanya diikuti oleh para abdi dalem dan juga kerabat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat serta masyarakat Ambarketawang. Kini hal tersebut tidak berlaku lagi karena upacara adat ini telah menjadi upacara adat yang bersifat nasional dikarenakan para peserta yang mengikuti ritual berasal dari berbagai macam penjuru tanah air. Upacara adat ini sudah masuk dalam kalender event tahunan Kabupaten Sleman bahkan Provinsi DIY. Sedangkan dalam segi transportasi, kini tersedia kereta mini yang mempermudah akses pengunjung menuju puncak acara di Gunung Gamping. Dari perkembangan tersebut, terdapat potensi wisata yang cukup menjanjikan. Selain karena budaya yang masih dipegang erat oleh masyarakat Ambarketawang, terdapat lokasi wisata Gunung Gamping tempat dimana asal muasal dari sejarah yang ada. Selain itu khususnya juga semakin banyak yang mengetahui tentang Saparan Bekakak sebagai budaya Nasional.

    Upacara Adat Saparan Bekakak ini cukup melekat pada masyarakat Ambarketawang Gamping yang memiliki keyakinan dan keharusan untuk melaksanakan upacara ritual tersebut. Prosesi penyembelihan sepasang boneka pengantin Bekakak yang unik diawali dengan dilakukannya kirab yang dimulai dari Balai Desa Ambarketawang. Kirab yang mengiringi joli atau yang berisi boneka pengantin Bekakak serta sesaji adalah kirab adat. Kirab adat berisi dua pasang boneka pengantin Bekakak, sepasang genderuwo, sesaji-sesaji, replika hewan kesayangan Ki Wirosuto, beberapa komunitas kesenian daerah setempat, serta beberapa prajurit yang mengawal. Pada tahun 2006 akhir, merupakan peralihan kepanitiaan penyelenggara Upacara adat Saparan Bekakak. Penyelenggara Saparan Bekakak dulu dikelola oleh pemerintah setempat, kemudian dilimpahkan sepenuhnya kepada warga Gamping. Tahun 2007 adalah merupakan awal diselenggarakannya upacara Adat Saparan Bekakak yang berbeda dari penyelenggaraan pada tahun-tahun sebelumnya. Penambahan simbol seperti Pra kirab dan Kirab Penggembira, yang terdapat dalam Upacara Adat Saparan Bekakak merupakan inovasi dari panitia penyelenggara yang baru agar saparan bekakak dikemas lebih menarik, efektif, dan menghibur serta menjadi daya tarik bagi para wisatawan.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memadukan Unsur Budaya Jawa dan Teknologi ala Gedung Baru Museum Sonobudoyo

AGAMA SIKH: SEJARAH, AJARAN, DAN SEPAK TERJANGNYA DI INDIA

SEJARAH SINGKAT KEPOPULERAN IKAN CUPANG DAN JENIS-JENISNYA DI INDONESIA