Mengilhami Visualisasi 430 Tahun Perjalanan Yogyakarta Bersama Diorama Arsip DPAD DIY

 

            Arsip dalam suatu penelitian sejarah adalah sumber primer. Tidak ada arsip, penelitian sejarah menjadi tidak relevan. Kita menjadi tidak bisa mengungkap fakta sejarah yang ada dari suatu peristiwa. Oleh karena itu, arsip harus dikelola dengan baik dan profesional agar dapat digunakan hingga waktu yang akan datang. Pemerintah di Indonesia sudah memiliki kesadaran akan hal tersebut, khususnya pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD DIY) yang mulai dibangun pada tahun 1948 sudah berkembang menuju modernisasi dan penataan yang baik. Selain sebagai sarana publik dalam mengakses arsip, lembaga pemerintah yang berlokasi di Jalan Raya Janti, Banguntapan, Bantul, DIY ini juga memiliki “wahana” baru yakni Diorama Arsip.

Gambar 1. Replika gapura Kraton Yogyakarta di Diorama Arsip

            Diorama Arsip merupakan hasil karya pengelolaan arsip yang dimiliki oleh DPAD DIY untuk menggambarkan sejarah Yogyakarta dalam 420 tahun ke belakang secara visual dan tampak “hidup”. Wahana ini diresmikan pada tanggal 24 Februari 2022 untuk memberikan pengalaman belajar sejarah dipadukan dengan teknologi modern. Diorama Arsip memiliki 18 ruangan dari mulai era Panembahan Senopati hingga era setelah reformasi. Terdapat dua bagian besar sebagai penanda masa. Sisi sebelah timur sebagai Yogyakarta Klasik, yakni masa Kesultanan, Pakualaman, kemudian sampai dalam proses modernisasi yang digabarkan dengan Lokomotif Perubahan. Sedangkan sebelah barat disebut sebagai Yogyakarta Modern, yakni mulai dari lahirnya tokoh-tokoh Yogyakarta yang turut memberi kontribusi bagi republik, sektor pendidikan ketika masa kolonial dan Jepang, kemudian Yogyakarta sebagai kota pendidikan, budaya, pariwisata, terjadinya bencana alam, dan keistimewaaan Yogyakarta. Terdapat beberapa model visualisasi yang disuguhkan di antaranya animasi, tayangan, hologram, replika benda, dan dokumen tiruan.


Gambar 2. Penggambaran partai-partai peserta pemilu 1950.

            Ketika mengunjungi Diorama Arsip, para pengunjung dibagi dalam sepuluh sesi setiap harinya. Setiap sesi dibatasi sampai 20 pengunjung dengan satu edukator dengan kisaran waktu satu setengah jam. Pengunjung diwajibkan untuk registrasi terlebih dahulu dan sudah siap 10 menit sebelum sesi dimulai. Jangan khawatir akan suhu ruangan yang lembab dan panas, setiap ruangan dalam Diorama Arsip terasa sejuk dan tidak pengap karena jumlah pengunjung yang dibatasi setiap sesinya. Untuk tarif yang ditentukan adalah sebagai berikut:

1. Pelajar/Mahasiswa Rp. 20.000/ orang*

2. Umum Rp. 30.000/orang

3. Asing Rp. 100.000/orang

4. Pembuatan liputan khusus/vlog/content youtube

    Rp. 250.000/orang/sesi

* Tarif diberlakukan mulai anak usia 7 tahun,

* Kunjungan rombongan dari sekolah minimal kelas 5 SD

Mengenai informasi lebih lanjut dapat diakses di https://arsipjogja.id/index.php

Selamat berkunjung!



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memadukan Unsur Budaya Jawa dan Teknologi ala Gedung Baru Museum Sonobudoyo

AGAMA SIKH: SEJARAH, AJARAN, DAN SEPAK TERJANGNYA DI INDIA

SEJARAH SINGKAT KEPOPULERAN IKAN CUPANG DAN JENIS-JENISNYA DI INDONESIA