Pergerakan Pasukan Gerilya dan Kolektivitas Masyarakat Dusun Kemusuk Kontra Agresi Militer Belanda II (1948-1949)
Sebuah penetapan kebebasan dari
segala bentuk penjajahan sudah berkumandang pada 17 Agustus 1945. Hal ini
menunjukkan eksistensi lahirnya sebuah negara, meskipun baru diketahui oleh
segelintir orang khususnya bagi mereka yang hadir di Jalan Pegangsaan Timur No.
56, Jakarta. Berita proklamasi baru diterima sampai di Yogyakarta sekitar pukul
12.00 WIB melalui khotbah, bertepatan dengan ibadah Jumat yang dilaksanakan di
Masjid Gede Kauman dan Masjid Pakualaman. Namun, kemerdekaan yang sudah diraih
rupanya masih harus dipertahankan dari intervensi eksternal. Pada tanggal 29
September 1945, Belanda datang kembali ke Indonseia dengan membonceng tentara
sekutu NICA (Netherland Indies Civil Administration) dengan mengadakan agresi
militer. Keadaan Jakarta sebagai ibukota negara pada saat itu sudah tidak
memungkinkan lagi. Dengan pengorganisasian yang sangat rapi melalui telik
sandi, ibukota negara berhasil dipindahkan ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946
(Winarto, 2009). Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai raja Yogyakarta pada
saat itu menyambut baik para proklamator dan bersedia membentengi Republik dari
intervensi Belanda.
Agresi militer dilakukan Belanda untuk yang kedua kalinya pada 19 Desember 1948. Belanda berhasil mengambil alih Yogyakarta untuk menjalankan pemulihan pemerintahan. Hal itu pastinya menimbulkan perlawanan oleh militer maupun rakyat sipil. Pasukan Republik berkonsolidasi untuk melakukan serangan gerilya terhadap pasukan Belanda. Rencana ini dilakukan di hutan-hutan pinggiran kota Yogyakarta kemudian bergerak menghancurkan obyek vital yang dianggap penting oleh Belanda. Terdapat pula beberapa target serangan gerilya antara lain pos-pos serdadu Belanda, jalan akses daerah, jembatan, gorong-gorong, pabrik gula, dan stasiun. Serangan dan penghancuran tersebut menimbulkan kemarahan dari pihak Belanda. Pasukan Belanda kemudian melakukan serangan masif dengan menyisir desa-desa di pinggiran kota Yogyakarta termasuk di Dusun Kemusuk, Sedayu, Kabupaten Bantul. Daerah ini yang nantinya menjadi salah satu lokasi munculnya gelombang perlawanan dari para pejuang dan masyarakat sipil.
Dusun
Kemusuk adalah target sasaran pasukan Belanda yang dikirim pada 27 Desember
1948. Hal ini karena Belanda memperkirakan di area Dusun Kemusuk terdapat basis
pertahanan pejuang gerilya sekaligus tempat keberadaan pimpinan gerilya, Letnan
Kolonel Soeharto (Dusun Kemusuk merupakan tempat kelahiran Soeharto). Mulai 28
Desember 1948, pasukan Belanda sudah memasuki Kemusuk (SESKOAD, 1989). Namun
usaha ini tidak membuahkan hasil yang signifikan karena Dusun Kemusuk terlihat
sepi tanpa pergerakan. Mereka menggeledah rumah warga sekaligus para perangkat
desa untuk mengetahui lebih dalam mengenai Dusun Kemusuk. Soeharto yang pada
saat itu menjadi Komandan Pasukan Brigade X di Yogyakarta menjadi orang yang
paling dicari karena diduga melakukan koordinasi pasukan untuk menghadapi
Belanda. Mereka juga meminta masyarakat untuk menyingkirkan kayu yang
dirobohkan di jalan guna menghalangi laju pasukan Belanda. Permintaan ini
akhirnya dituruti untuk mencegah korban berjatuhan. Namun, pada 3 Januari 1949
Jembatan Glondong yang menjadi akses menuju Argomulyo dihancurkan para pejuang
yang bekerja sama dengan masyarakat setempat. Tentara Belanda kemudian
melakukan penyisiran dan menangkap beberapa target kunci untuk menggali
informasi. Penangkapan ini dilakukan untuk mencari tahu lebih dalam mengenai
posisi pasukan republik dan rencana apa yang telah disusun untuk menghalangi
agresi. Orang-orang tersebut adalah Mangunsahar (Kepala Dukuh Panggang),
Joyowigeno (Kepala Bagian Keamanan) bersama Boiman (tukang kebun), dan Jasetomo
(pesuruh Sekolah Rakyat Pedes). Setelah penangkapan tersebut pada 7 Januari
1949 Belanda menggempur Kalurahan Argomulyo, termasuk daerah Kemusuk.
Rumah-rumah warga dibakar ditambah dengan tembakan senjata tanpa henti. Akibat
serangan ini banyak korban yang berjatuhan terutama dari pamong Desa Argomulyo.
Peristiwa serangan bombardir ini kemudian diberi nama Peristiwa Setu Legi (Sudrajat & Harianti,
2012).
Pasukan
Belanda lebih leluasa untuk menguasai Kemusuk, mereka mulai membangun markas di
Glondong pada 21 Januari 1949. Baru dua hari setelah pembangunan markas
selesai, pasukan Belanda mendapatkan gangguan dari gerilyawan dan tentara.
Terdapat adu tembak yang berlangsung selama satu jam. Hal ini menjadi suatu
kemenangan kecil bagi para pejuang karena tidak ada korban satupun dan dapat
mengganggu pasukan Belanda dalam mengawasi Kemusuk, sesuai dengan tujuan utama
dari serangan tersebut. Pada tanggal 25 Januari 1949 Belanda melakukan patrol
kembali untuk melakukan penyisiran para gerilyawan beserta masyarakat yang melakukan
perlawanan. Namun penyisiran tersebut sebatas penjagaan keamanan dan hanya melakukan
pengecekan di daerah padat seperti pasar dan masjid. Hal ini menimbulkan
kekhawatiran bagi warga Kemusuk Lor terutama ibu-ibu beserta anak kecil yang
tidak telibat langsung dalam perlawanan. Satu bulan kemudian tepatnya pada
tanggal 22 Februari 1949 Belanda melakukan patroli kembali. Kali ini rute
patroli yang dilewati adalah Desa Pedes-Kemusuk-Samben-Sengon-Dawung kembali ke
Pos Glondong (Sudrajat & Harianti, 2012). Dalam patroli ini tentara Belanda
membunuh pejuang yang bernama Kamisran Darmopawiro. Jenazahnya kemudian dibawa
ke rumah Lurah Sumbersari yang sering dipakai untuk tentara republik dan
gerilyawan untuk berkumpul.
Beberapa waktu
berlalu, hingga pada 1 Maret 1949 terjadi serangan besar pasukan gerilya untuk
menggempur posisi Belanda di pusat kota Yogyakarta. Pergerakan yang kemudian
diberi nama “Serangan Oemoem 1 Maret” ini didukung penuh oleh Sutan HB IX.
Pasukan Belanda yang terkejut atas serangan tersebut terpaksa mundur dari pusat
kota. Tekanan juga dilancarkan oleh dunia internasional yang mengecam
pendudukan Belanda di Indonesia. Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) menuntut Belanda
untuk menghentikan adu tembak dan menyerahkan kembali Yogyakarta. Kekalahan ini
membuat Belanda geram dan berencana melakukan serangan balasan untuk menumpas
pasukan gerilya, terutama Soeharto sebagai salah satu otak serangan besar
tersebut. Pada 16 Maret 1949, Belanda mulai memasuki kembali Dusun Kemusuk.
Pasukan Brigade Mobil (BRIMOB) yang sudah melakukan persiapan menghadang
pasukan Belanda di simpang empat Kemusuk Kidul. Adu tembak terjadi, pasukan
Belanda akhirnya berhasil dipukul mundur. Serangan balasan dilakukan Belanda
pada sore harinya melalui udara dengan pesawat tempur “cocor merah” milik
Belanda. Beruntungnya tidak ada korban jiwa dari serangan tersebut. Serangan
besar kembali terjadi pada 18 Maret 1949. Serangan ini yang nantinya merupakan
tragedi terparah bagi masyarakat Kemusuk. Belanda datang dari arah Godean dan
menyerang dari segala penjuru. Penyisiran dilakukan di semua lokasi termasuk
tempat persembunyian yang dibuat dari tumpukan jerami. Hal ini mengakibatkan
banyaknya korban jiwa dari pihak gerilyawan dan masyarakat sipil.
Perjuangan
masyarakat Dusun Kemusuk dalam menghadapi gempuran pasukan Belanda tidak hanya
dilakukan oleh satu pihak saja. Banyak elemen masyarakat yang menyokong bantuan
secara sukarela. Upaya pemerintah Desa Argomulyo khususnya di Dusun Kemusuk
dalam bidang perekonomian semakin buruk karena serangan besar Belanda.
Masyarakat hanya bisa bergantung pada hasil pertanian. Namun hal tersebut tidak
mengurungkan semangat gotong royong untuk membantu para pejuang terutama
logistik. Kedatangan tentara di Kemusuk dan bantuan pasukan dari Divisi
Siliwangi membuat masyarakat merasa aman serta perlu untuk membantu perjuangan
gerilya mereka. Dapur umum kemudian dipersiapkan dengan banyak sumbangan dari
masyarakat seperti hewan ternak, jagung, ketela, ubi, beras, sayuran, pisang,
dan papaya (Novitarina, 2014). Bentuk solidaritas sosial masyarakat ini
terlihat dari pergerakan kolektif seluruh lapisan yang ada. Bahan-bahan
sederhana yang tersedia pada saat itu diolah menjadi masakan yang kemudian
menjadi pondasi energi bagi para pejuang. Keberadaan dapur umum berafiliasi
maupun memiliki keterkaitan dengan Badan Oeroesan Makanan (BOM) di Kota
Yogyakarta pimpinan Ibu Ruswo. Hal ini menjadi peran penting dari masyarakat
sipil dalam perjuangan revolusi, terutama pada saat kondisi ekonomi Dusun
Kemusuk yang sangat buruk. Lokasi dari dapur umum dalam beberapa waktu
menempati dua rumah milik Partosediro dan Kodo. Namun lokasi dapur umum sering
berpindah-pindah untuk mengelabuhi pasukan Belanda. Diketahui bahwa dapur umum
merupakan salah satu target untuk melumpuhkan pergerakan para pejuang. Dalam
koordinasi persiapan logistik, perangkat desa berperan sebagai penyusun rencana
juga untuk memudahkan para pejuang jika hendak melakukan konsolidasi.
Selain
pada penyediaan logistik, masyarakat Dusun Kemusuk juga senantiasa menjaga
keamanan wilayah mereka sendiri. Berkolaborasi dengan para pejuang, masyarakat
Dusun Kemusuk turut terjun dalam melakukan gerilya perlawanan. Para perangkat
desa dengan wewenangnya untuk melakukan peran birokrasi mengkoordinir
masyarakat sipil supaya tidak melakukan tindakan sporadis yang merugikan. Lurah
sebagai pemimpin paling disegani berkewajiban menyampaikan segala instruksi
dari pusat salah satunya menyangkut keamanan wilayah (Nasution, 2012). Keamanan
Dusun Kemusuk mayoritas dilakukan oleh pemuda, guru, dan petani. Para pemuda
masih memiliki fisik yang kuat sehingga dapat melakukan kegiatan keamanan
dengan maksimal. Para guru bergabung menjadi pejuang karena proses pendidikan
yang terhenti akibat serangan dari Belanda. Para petani menjalankan perannya
menjaga keamanan wilayah sebagai informan kedatangan musuh sembari menjalankan
pekerjaannya di sawah maupun ladang. Kegiatan penjagaan keamanan yang dilakukan
antara lain ronda kampung, membangun pos penjagaan, pembentukan Organisasi
Pertahanan Rakyat (OPR), dan pembuatan rintangan di sepanjang jalan
Pedes-Kemusuk (Novitarina, 2014). Untuk menjalankan kegiatan keamanan ini,
dibentuk suatu “Pertahanan Rakyat Total”. Menilik pada serangan Belanda tanggal
7 Januari 1949 yang menghancurkan Kemusuk, keamanan semakin ditingkatkan.
Kemudian dibentuk pula pager desa untuk memperkuat keamanan yang merupakan
lanjutan dari OPR, sehingga OPR sudah pasti menjadi pager desa. Mereka dilatih melakukan
pergerakan infanteri sederhana untuk menjalankan perang partisan jika
berhadapan dengan musuh.
Pada
masa Revolusi Fisik, keadaan Indonesia berada dalam situasi yang tidak stabil.
Suatu bangsa yang baru saja merdeka seharusnya memiliki waktu dan sumber daya
yang cukup untuk membangun peradaban. Namun Belanda dengan kolonialisme yang
bercokol paling lama di Indonesia tidak sudi menerima kebebasan Indonesia
sebagai bangsa yang merdeka. Agresi militer dilancarkan Belanda sebanyak dua
kali untuk menggempur area dan sumber daya vital bagi republik. Dusun Kemusuk,
sebagai salah satu wilayah sasaran yang terkena imbas dari agresi tersebut
melakukan perlawanan. Para tentara, gerilyawan, dan masyarakat bahu membahu
untuk menghadang tentara Belanda. Penghancuran jembatan, penghalangan jalan,
penyerangan pos pertahanan, pembuatan dapur umum, dan penjagaan keamanan
dilakukan sebagai reaksi serangan. Semangat yang muncul setelah keberhasilan
serangan pada 1 Maret 1949 membuat dukungan semakin bertambah menjadi usaha
kolektif masyarakat. Dalam kondisi yang serba terbatas, kolaborasi ditunjukkan
sebagai suatu bangsa yang ingin merdeka. Dari peristiwa ini, dapat dilihat
bahwa perjuangan suatu bangsa tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja.
Masyarakat sipil membutuhkan tentara untuk melindungi wilayahnya, tentara
membutuhkan masyarakat sebagai bantuan untuk melancarkan misi pertahanan,
begitu juga pihak-pihak lain seperti birokrat desa dan pemerintah. Menilik pada
situasi negara saat ini dengan berbagai permasalahan yang kompleks, seluruh
lapisan masyarakat dan pemangku kebijakan sepatutnya saling bahu membahu
memperbaiki kondisi bangsa dengan apa yang dimiliki. Jika pada era Revolusi
Fisik terdapat mata-mata yang senantiasa mengawasi gerak-gerik pejuang, pada
saat ini pun ada pihak-pihak yang ingin menghancurkan kita sebagai bangsa yang
merdeka. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama, kepercayaan akan masa
depan bernegara yang baik akan menuntun kita menjadi bangsa besar tanpa
intervensi yang memecah belah persatuan bangsa.
Referensi
Abdul
Haris Nasution. (2012). Pokok-Pokok
Gerilya. Yogyakarta: Narasi.
Batara R. Hutagalung. (2010). Serangan Umum 1 Maret 1949. Yogyakarta:
PT LkiS Printing Cemerlang.
Bibit, B.A. (2011). Catatan Sejak Terbentuknya Kelurahan
Argomulyo Sampai dengan Pasca Agresi Militer Belanda II 1946-1949. Yogyakarta:
tanpa penerbit.
Djudjuk
Juyoto ST., dkk. (1991). Gemuruh Kemusuk.
Jakarta: Tifa Poyeksi Utama.
Joko Winarto. (2009). Kondisi Yogyakarta saat Perpindahan Ibukota
Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta Tahun (1946-1949). Skripsi.
Semarang: UNNES.
Maharani Novitarina W. (2014). Peranan Masyarakat Dusun Kemusuk pada Masa
Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta Tahun 1948-1949. Skripsi. Yogyakarta:
UNY.
SESKOAD. (1989). Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta Latar Belakang dan
Pengaruhnya. Jakarta: Lamtoro Gung Persada.
Sudrajat & Harianti. (2012). Tragedi Setu Legi Sebuah Kajian Sejarah
Lisan. Jurnal. Yogyakarta: UNY.
Komentar
Posting Komentar