Kontinuitas Tradisi Lisan Pondok Wonolelo Hingga Filosofi Kue Apem Dalam Saparan Wonolelo

 

Perkembangan sejarah lokal di Indonesia saat ini banyak menarik perhatian khalayak. Selain eksistensinya yang hidup di tengah masyarakat, sejarah lokal bisa menjadi penanda munculnya suatu daerah beserta perilakunya yang diimplementasikan melalui tradisi. Tradisi ini sebagai bentuk kearifan lokal tidak hanya sebagai jati diri daerah namun juga memiliki filosofi yang kental di dalamnya. Sejarah Pondok Wonolelo dan Saparan Wonolelo merupakan salah satu contoh menarik dari bentuk kontinuitas sejarah lokal yang berkembang secara lisan. Pondok Wonolelo berlokasi di Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (Sukesthi, 2013: 34). Bagi masyarakat pondok Wonolelo, nama Ki Ageng Wonolelo tidak asing lagi untuk didengar. Sebuah upacara pengarakan pusaka rutin dilakukan oleh warga setempat untuk menghormati Ki Ageng Wonolelo selaku leluhur dan penggagas dari Pondok Wonolelo ini. Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang, silsilah Ki Ageng Wonolelo ini dapat ditelusuri dari Brawijaya V yang merupakan raja Majapahit terakhir (Tashadi dkk., 1992: 60).

Prabu Brawijaya V memiliki putra-putri sebanyak 111 orang yang terdiri dari 60 putra dan 51 putri. salah satu putranya bernama Bracakngilo, biasa disebut Ki Jumadil Qubro. Ki Jumadil Qubro memiliki putra bernama Syech Kaki dan Syech Jimat. Kemudian Syech Kaki memiliki putra bernama Ki Jumadigena (Tashadi dkk., 1992: 60). Ki Jumadigena ini yang kemudian tinggal dan menetap di pedukuhan Pondok Wonolelo. Alasan penamaan Wonolelo ini adalah pada masa Ki Jumadigena masih menetap di Turgo, beliau seringkali melihat ke Tenggara dan terlihat adanya wono atau hutan yang ngalela atau terang. Oleh karena itu Ki Jumadigena melakukan pembabatan hutan tersebut dan menetap di sana. Ki Jumadigena lalu berganti nama menjadi Ki Ageng Wonolelo hingga kemudian mendirikan Pondok Wonolelo untuk menampung murid-muridnya serta menyebarkan agama Islam.

Proses penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Ki Ageng Wonolelo ini dimulai sejak beliau selesai berguru pada Ki Jumadil Qobra yang dalam urutan silsilah memiliki hubungan keluarga dengan Ki Ageng Wonolelo. Dalam perguruannya ini, beliau juga berguru bersama Ki Ageng Gribig yang menyebarkan agama Islam di wilayah Jatinom, Klaten. Baik Ki Ageng Wonolelo maupun Ki Ageng Gribig masih merupakan keturunan dari Prabu Brawijaya V. (Tashadi dkk., 1992: 61). Ki Ageng Wonolelo lalu membabat hutan menggunakan benda pusakanya yang dinilai ampuh dan sakti. Selama hidupnya, Ki Ageng Wonolelo menyebarkan ilmu yang dimilikinya di Pondok Wonolelo. Pondok Wonolelo sendiri selain dibangun untuk menyebarkan ilmu agama Islam juga dibangun untuk menampung murid-murid dari Ki Ageng Wonolelo. Bukti islamisasi ini dapat terlihat melalui benda pusaka yang ditinggalkannya seperti kitab suci Al-Quran yang ditulis tangan oleh Ki Ageng Wonolelo, Kyai Gondhil (baju yang dikenakan Ki Ageng Wonolelo saat membuka lahan Wonolelo), kopyah, serta potongan kayu masjid Ki Ageng Wonolelo yang kemudian menjadi bagian dari rangkaian upacara adat bernama Saparan Wonolelo.

Upacara ini sudah diselenggarakan sejak tahun 1969 sesuai dengan ilham yang didapatkan sesepuh ketika bersemedi. Pada periode tahun 80-an tepatnya pada 1985, diadakan pasar malam selama lima hari untuk menarik perhatian masyarakat luas. Beberapa atraksi ditampilkan seperti wayang kulit, ketoprak, orkes melayu, dan lainnya. Hal ini menjadi sebuah perkembangan dari prosesi yang lebih membumi namun tidak melepaskan filosofi dan pesan utama dalam Saparan Wonolelo. Perkembangan kembali terjadi pada periode 2000-an khususnya pada tahun 2012. Pada tahun ini, prosesi dilaksanakan dua kali karena mengikuti penanggalan Jawa. Semakin dikenalnya tradisi ini membuat pendapatan ekonomi masyarakat meningkat bersamaan dengan pelaksanaan yang lebih terstruktur. Terdapat tempat berbelanja, pasar malam, pentas dangdut, lomba karaoke, parade band, dan pemutaran film (Sukesthi, 2013: 51). Perkembangan pesat teknologi membuat prosesi Saparan Wonolelo harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Namun hal ini dilakukan semata-mata untuk menarik generasi selanjutnya, tidak menggeser marwah dari sejarah lokal Pondok Wonolelo itu sendiri.

Saparan sendiri berasal dari kata Sapar atau Syafar, sebuah penanggalan Jawa menurut kepercayaan Islam. Hal ini berhubungan dengan waktu pelaksanaan Saparan Wonolelo yang dilaksanakan setiap bulan Sapar, tepatnya hari Kamis Pahing sebelum Jumat Pon (Ernawati, 2017: 21). Upacara ini diawali dengan pengajian akbar kemudian diikuti pengajian-pengajian yang rutin dilaksanakan di Pendopo makam Ki Ageng Wonolelo. Pada puncak acara tradisi ini, dilakukan kirab pusaka atau arak-arakan kemudian dilanjutkan penyebaran kue apem. Rute kirab pusaka dimulai dari pendopo Kalurahan Widodomartani sekaligus pembukaan, kemudian menuju rumah peninggalan Ki Ageng Wonolelo untuk mengambil barang-barang pusaka. Setelah itu barang-barang pusaka dibawa menuju makam Ki Ageng Wonolelo kemudian didoakan. Pusaka dibawa dengan menggunakan joli-joli. Urutan pusaka dimulai dari Kyai Gondhil, kemudian kopyah, disusul Al-Quran dan yang terakhir potongan kayu masjid (mustaka). Pusaka kemudian dibawa kembali ke rumah peninggalan Ki Ageng Wonolelo dan dilanjutkan pembagian kue apem kepada masyarakat sekitar.

Kue apem adalah salah satu unsur unik yang tidak boleh lepas dari pelaksanaan Saparan Wonolelo. Kue ini dibuat dari tepung beras yang digoreng dalam wajan memakai minyak goreng. Tepung beras yang digunakan ini dicampur dengan gula agar memunculkan rasa manis. Tentang bagaimana kemunculan kue apem dalam prosesi Saparan Wonolelo berasal dari cerita mengenai juru kunci makam Jatinom (makam dari Ki Ageng Gribig) yang berusaha untuk membantu penduduk Pondok Wonolelo yang sedang kelaparan karena gagal panen. Beliau berkunjung ke rumah Kepala Desa Widodomartani membawa apem untuk diberikan dan berpesan agar kue apem ini diratakan ke seluruh tanah persawahan yang gagal panen. Pesan tersebut dilaksanakan oleh Kepala Desa dengan mengalirkan potongan kue apem melalui bendungan agar dapat tersalurkan ke seluruh pesawahan yang terdampak. Ternyata setelah itu hama tikus penyebab gagal panen dapat teratasi, hal ini menjadi awal munculnya sebuah simbol baru sebagai ucapan syukur masyarakat Wonolelo (Kurniawan, 2018: x).

Dari kisah yang berkembang tersebut membuat masyarakat percaya bahwa siapapun yang mendapatkan kue apem pada saat Saparan Wonolelo akan mendapat berkah tersendiri. Kata “apem” itu sendiri memiliki arti sebagai “ampunan”. Apem juga dipercaya dapat menangkal segala jenis hama tanaman dan memberikan keselamatan bagi masyarakat. Kue apem yang disusun menjadi bentuk gunungan melambangkan permohonan ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kepercayaan yang dianut masyarakat ini sebagai simbol identitas masyarakat Pondok Wonolelo yang telah ada sejak lama. Peran sentral Ki Ageng Wonolelo dengan pusakanya, disusul dengan eksistensi kue apem diketahui menjadi “alat bantu” masyarakat untuk merawat ingatan mereka. Hal ini yang membuat munculnya tradisi Saparan Wonolelo pada tahun 1969 hingga berkembang sampai sekarang. Atensi yang mulai meningkat dari para sejarawan mengenai sejarah lokal daerah kini dapat dijadikan momentum renaissance penting setelah historiografi nasional yang dahulu banyak berkutat pada sejarah politik dan militer.

 

 


Daftar Pustaka

Aziz Kurniawan. (2018). “Tradisi Saparan pada Masyarakat Kontemporer (Studi Peran dan Makna Modal Sosial dalam Perayaan Upacara Adat Saparan di Dusun Pondok Wonolelo, Widodomartani, Ngemplak, Sleman”. Skripsi. Yogyakarta: UGM.

Dewi Rohmani. (2012). “Perubahan Sosial Budaya Pada Upacara Adat Saparan Ki Ageng Wonolelo di Pondok Wonolelo Widodomartani Ngemplak Sleman Yogyakarta”. Skripsi. Yogyakarta: UNY.

Isnaini Ernawati (2017). “Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Saparan Ki Ageng Wonolelo di Desa Widodomartani Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman Tahun 2015”. Skripsi. Salatiga: IAIN Salatiga.

Tashadi, dkk. (1992). Upacara Tradisional Saparan Daerah Gamping dan Wonolelo Yogyakarta. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Woro Sukesthi. (2013). “Partisipasi Masyarakat dalam Perayaan Upacara Tradisi Saparan Ki Ageng Wonolelo di Desa Pondok Wonolelo Widodomartani Ngemplak Sleman Yogyakarta”. Skripsi. Yogyakarta: UNY.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memadukan Unsur Budaya Jawa dan Teknologi ala Gedung Baru Museum Sonobudoyo

AGAMA SIKH: SEJARAH, AJARAN, DAN SEPAK TERJANGNYA DI INDIA

SEJARAH SINGKAT KEPOPULERAN IKAN CUPANG DAN JENIS-JENISNYA DI INDONESIA