Kontinuitas Tradisi Lisan Pondok Wonolelo Hingga Filosofi Kue Apem Dalam Saparan Wonolelo
Perkembangan sejarah
lokal di Indonesia saat ini banyak menarik perhatian khalayak. Selain
eksistensinya yang hidup di tengah masyarakat, sejarah lokal bisa menjadi penanda
munculnya suatu daerah beserta perilakunya yang diimplementasikan melalui
tradisi. Tradisi ini sebagai bentuk kearifan lokal tidak hanya sebagai jati
diri daerah namun juga memiliki filosofi yang kental di dalamnya. Sejarah
Pondok Wonolelo dan Saparan Wonolelo
merupakan salah satu contoh menarik dari bentuk kontinuitas sejarah lokal yang
berkembang secara lisan. Pondok Wonolelo berlokasi di Desa Widodomartani,
Kecamatan Ngemplak, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (Sukesthi, 2013: 34). Bagi
masyarakat pondok Wonolelo, nama Ki Ageng Wonolelo tidak asing lagi untuk
didengar. Sebuah upacara pengarakan pusaka rutin dilakukan oleh warga setempat
untuk menghormati Ki Ageng Wonolelo selaku leluhur dan penggagas dari Pondok Wonolelo
ini. Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang, silsilah Ki Ageng Wonolelo ini
dapat ditelusuri dari Brawijaya V yang merupakan raja Majapahit terakhir
Prabu Brawijaya V
memiliki putra-putri sebanyak 111 orang yang terdiri dari 60 putra dan 51
putri. salah satu putranya bernama Bracakngilo, biasa disebut Ki Jumadil Qubro.
Ki Jumadil Qubro memiliki putra bernama Syech Kaki dan Syech Jimat. Kemudian
Syech Kaki memiliki putra bernama Ki Jumadigena
Proses penyebaran agama
Islam yang dilakukan oleh Ki Ageng Wonolelo ini dimulai sejak beliau selesai
berguru pada Ki Jumadil Qobra yang dalam urutan silsilah memiliki hubungan
keluarga dengan Ki Ageng Wonolelo. Dalam perguruannya ini, beliau juga berguru
bersama Ki Ageng Gribig yang menyebarkan agama Islam di wilayah Jatinom,
Klaten. Baik Ki Ageng Wonolelo maupun Ki Ageng Gribig masih merupakan keturunan
dari Prabu Brawijaya V.
Upacara ini sudah
diselenggarakan sejak tahun 1969 sesuai dengan ilham yang didapatkan sesepuh ketika bersemedi. Pada periode
tahun 80-an tepatnya pada 1985, diadakan pasar malam selama lima hari untuk
menarik perhatian masyarakat luas. Beberapa atraksi ditampilkan seperti wayang
kulit, ketoprak, orkes melayu, dan lainnya. Hal ini menjadi sebuah perkembangan
dari prosesi yang lebih membumi namun tidak melepaskan filosofi dan pesan utama
dalam Saparan Wonolelo. Perkembangan
kembali terjadi pada periode 2000-an khususnya pada tahun 2012. Pada tahun ini,
prosesi dilaksanakan dua kali karena mengikuti penanggalan Jawa. Semakin
dikenalnya tradisi ini membuat pendapatan ekonomi masyarakat meningkat
bersamaan dengan pelaksanaan yang lebih terstruktur. Terdapat tempat
berbelanja, pasar malam, pentas dangdut, lomba karaoke, parade band, dan
pemutaran film (Sukesthi, 2013: 51). Perkembangan pesat teknologi membuat
prosesi Saparan Wonolelo harus
disesuaikan dengan perkembangan zaman. Namun hal ini dilakukan semata-mata untuk
menarik generasi selanjutnya, tidak menggeser marwah dari sejarah lokal Pondok
Wonolelo itu sendiri.
Saparan sendiri
berasal dari kata Sapar atau Syafar, sebuah penanggalan Jawa menurut
kepercayaan Islam. Hal ini berhubungan dengan waktu pelaksanaan Saparan Wonolelo yang dilaksanakan
setiap bulan Sapar, tepatnya hari Kamis Pahing sebelum Jumat Pon (Ernawati, 2017:
21). Upacara ini diawali dengan pengajian akbar kemudian diikuti
pengajian-pengajian yang rutin dilaksanakan di Pendopo makam Ki Ageng Wonolelo.
Pada puncak acara tradisi ini, dilakukan kirab pusaka atau arak-arakan kemudian
dilanjutkan penyebaran kue apem. Rute kirab pusaka dimulai dari pendopo
Kalurahan Widodomartani sekaligus pembukaan, kemudian menuju rumah peninggalan
Ki Ageng Wonolelo untuk mengambil barang-barang pusaka. Setelah itu
barang-barang pusaka dibawa menuju makam Ki Ageng Wonolelo kemudian didoakan. Pusaka
dibawa dengan menggunakan joli-joli. Urutan
pusaka dimulai dari Kyai Gondhil,
kemudian kopyah, disusul Al-Quran dan yang terakhir potongan
kayu masjid (mustaka). Pusaka
kemudian dibawa kembali ke rumah peninggalan Ki Ageng Wonolelo dan dilanjutkan
pembagian kue apem kepada masyarakat sekitar.
Kue apem adalah salah
satu unsur unik yang tidak boleh lepas dari pelaksanaan Saparan Wonolelo. Kue ini dibuat dari tepung beras yang digoreng
dalam wajan memakai minyak goreng. Tepung beras yang digunakan ini dicampur
dengan gula agar memunculkan rasa manis. Tentang bagaimana kemunculan kue apem
dalam prosesi Saparan Wonolelo
berasal dari cerita mengenai juru kunci makam Jatinom (makam dari Ki Ageng
Gribig) yang berusaha untuk membantu penduduk Pondok Wonolelo yang sedang
kelaparan karena gagal panen. Beliau berkunjung ke rumah Kepala Desa
Widodomartani membawa apem untuk diberikan dan berpesan agar kue apem ini
diratakan ke seluruh tanah persawahan yang gagal panen. Pesan tersebut
dilaksanakan oleh Kepala Desa dengan mengalirkan potongan kue apem melalui
bendungan agar dapat tersalurkan ke seluruh pesawahan yang terdampak. Ternyata
setelah itu hama tikus penyebab gagal panen dapat teratasi, hal ini menjadi
awal munculnya sebuah simbol baru sebagai ucapan syukur masyarakat Wonolelo
(Kurniawan, 2018: x).
Dari kisah yang
berkembang tersebut membuat masyarakat percaya bahwa siapapun yang mendapatkan
kue apem pada saat Saparan Wonolelo
akan mendapat berkah tersendiri. Kata “apem” itu sendiri memiliki arti sebagai
“ampunan”. Apem juga dipercaya dapat menangkal segala jenis hama tanaman dan
memberikan keselamatan bagi masyarakat. Kue apem yang disusun menjadi bentuk
gunungan melambangkan permohonan ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kepercayaan
yang dianut masyarakat ini sebagai simbol identitas masyarakat Pondok Wonolelo
yang telah ada sejak lama. Peran sentral Ki Ageng Wonolelo dengan pusakanya, disusul
dengan eksistensi kue apem diketahui menjadi “alat bantu” masyarakat untuk
merawat ingatan mereka. Hal ini yang membuat munculnya tradisi Saparan Wonolelo pada tahun 1969 hingga
berkembang sampai sekarang. Atensi yang mulai meningkat dari para sejarawan
mengenai sejarah lokal daerah kini dapat dijadikan momentum renaissance penting setelah
historiografi nasional yang dahulu banyak berkutat pada sejarah politik dan
militer.
Daftar Pustaka
Aziz
Kurniawan. (2018). “Tradisi Saparan pada Masyarakat Kontemporer (Studi Peran
dan Makna Modal Sosial dalam Perayaan Upacara Adat Saparan di Dusun Pondok
Wonolelo, Widodomartani, Ngemplak, Sleman”. Skripsi.
Yogyakarta: UGM.
Dewi
Rohmani. (2012). “Perubahan Sosial Budaya Pada Upacara Adat Saparan Ki Ageng
Wonolelo di Pondok Wonolelo Widodomartani Ngemplak Sleman Yogyakarta”. Skripsi. Yogyakarta: UNY.
Isnaini
Ernawati (2017). “Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Saparan Ki Ageng
Wonolelo di Desa Widodomartani Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman Tahun 2015”. Skripsi. Salatiga: IAIN Salatiga.
Tashadi,
dkk. (1992). Upacara Tradisional Saparan
Daerah Gamping dan Wonolelo Yogyakarta. Yogyakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan.
Woro
Sukesthi. (2013). “Partisipasi Masyarakat dalam Perayaan Upacara Tradisi
Saparan Ki Ageng Wonolelo di Desa Pondok Wonolelo Widodomartani Ngemplak Sleman
Yogyakarta”. Skripsi. Yogyakarta:
UNY.
Komentar
Posting Komentar