APA ITU REVOLUSI HIJAU DAN BAGAIMANA SEJARAH REVOLUSI HIJAU DI INDONESIA?

A. Awal Mula Munculnya Revolusi Hijau

    1. Konsep dan Gagasan Revolusi Hijau

    Pada akhir abad XX keadaan pangan dunia sangat buruk. Produksi pangan pada saat itu tidak merata dan hanya dikuasai oleh negara-negara maju. Seperempat penduduk dunia mengalami kelaparan, dan hanya segelintir penduduk yang menguasai 80% kekayaan dunia. Meskipun sudah ada usaha untuk memerangi tingkat kelaparan, namun masih ada banyak orang yang menderita kelaparan, hingga terjadi malgizi. Hampir seluruh penderita tersebut hidup negara-negara yang sedang berkembang dan miskin. Maka terdapat gagasan untuk menyalamatkan sumber pangan dunia, melalui revolusi hijau.

    Revolusi hijau atau revolusi agraria adalah suatu perubahan cara bercocok tanam dari cara tradisional berubah ke cara modern untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Tujuan revolusi hijau adalah meningkatkan produktivitas pertanian dengan cara penelitian dan eksperimen bibit unggul. Revolusi hijau dipercikkan dengan penciptaan dua varietas unggul tanaman pangan pokok pada tahun 1960-an. Varietas unggul yang satu adalah varietas unggul padi IR-8 hasil persilangan suatu varietas padi Taiwan dan Indonesia yang dibuat oleh Dr. Te-Tzu Chang di IRRI, Filipina. Sedangkan yang satunya lagi merupakan varietas unggul gandum yang dibuat oleh Dr. Norman Borlaug di CIMMYT, Meksiko. Norman Borlaug sendiri mendapatkan Nobel perdamaian pasa tahun 1970 atas jasa-jasanya dalam revolusi hijau. 

    2. Asas Revolusi Hijau

    Tekanan pokok bagi revolusi hijau adalah menaikkan produksi pangan. Strategi revolusi hijau sering dikatakan sebagai cara satu-satunya untuk meningkatkan pangan dunia. Revolusi hijau padi dapat meningkatkan produksi gabah secara signifikan di daerah-daerah yang airnya dapat dikendalikan atau dilakukan irigasi. Faktor lainnya adalah laju adopsi varietas unggul tinggi, pupuk yang banyak digunakan, pengendalian hama secara kimiawi, dan insentif berupa subsidi atau dukungan harga sebagai sudut pandang peningkatan dukungan sektor publik.



B. Penerapan Revolusi Hijau di Indonesia

    Pelaksanaan Revolusi Hijau di Indonesia berawal dari kegiatan praktik lapangan mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan tujuan memperkenalkan Panca Usaha Tani. Kegiatan itu dilakukan selama satu bulan menjelang musim tanam. Pada tahun 1963-1964 kegiatan itu lebih difokuskan melalui Demonstration Plot (Demplot) di Karawang. Hasilnya berupa kenaikan produksi rata-rata sebanyak 74,72 kw/hektare padi basah dibandingkan dengan 31,98 kw/hektare padi pada persawahan biasa. Berdasar kondisi itu, sejak periode 1964-1965 pola Demplot ini dikembangkan melalui uji coba di berbagai provinsi. Sistem itu kemudian ditetapkan sebagai usaha pemerintah untuk meningkatkan produksi padi yang dikenal dengan nama Bimas (Bimbingan Massal). 

   Kemudian, usaha itu dikembangkan oleh Pemerintah Orde Baru menjadi suatu kegiatan Inmas (Intensifikasi Massal), yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pertanian dengan cara intensifikasi guna meningkatkan kesejahteraan petani (SK Menteri Pertanian No. 546/kpts/12/org/1969).  Program itu merupakan usaha bimbingan bersama dari berbagai instansi pemerintah, baik di dalam maupun di luar lingkungan Departemen Pertanian, ke arah swadaya masyarakat tani dengan jalan Panca Usaha Tani yang dilanjutkan dengan Sapta Usaha Tani, yaitu dengan melakukan pembinaan, pengolahan dan pemasaran hasil pertanian, dan terakhir pembangunan masyarakat desa. Panca Usaha meliputi usaha-usaha pengurusan pengairan yang baik, penggunaan bibit unggul, penggunaan pupuk kimia secara optimal, pemberantasan hama penyakit dan penggunaan cara-cara bercocok tanam yang tepat. Dengan demikian, jelas bahwa Revolusi Hijau yang dijabarkan ke dalam Program Panca Usaha Tani merupakan modernisasi pertanian di Indonesia. Harus diakui bahwa penerapan Panca Usaha Tani mampu meningkatkan hampir seluruh subsektor dalam sektor pertanian di Indonesia. 

   Selain itu, Pemerintah Orde Baru juga melakukan penataan program ini jadi Insus (Intensifikasi Khusus), yaitu pengembangan peningkatan hasil dari setiap hektar sawah. Program ini dianggap cukup berhasil karena berhasil meningkatkan produksi pertanian sebanyak dua kali lipat. Pemerintah kemudian juga mengembangkan Insus menjadi Supra Insus, yaitu mengembangkan teknologi pertanian dengan penggunaan zat perangsang tumbuhan.

   Selain program intensifikasi dan ekstensifikasi, pemerintah Orde Baru juga mengembangkan mekanisasi dan diversifikasi. Mekanisasi adalah usaha meningkatkan hasil pertanian dengan menggunakan mesin-mesin pertanian modern. Misalnya, dengan pemakaian mesin pengolah gabah.  Sementara diversifikasi pertanian adalah usaha penganekaragaman jenis usaha atau tanaman pertanian agar hasil pertaniannya tidak hanya satu hasil saja. Pemerintah Orde Baru pada saat itu mengimbau kepada para petani agar memperbanyak jenis kegiatan pertanian dan jenis tanaman yang ditanam. Jadi, pemerintah Orde Baru mengharapkan petani dapat menghasilkan uang selain dari menanam padi saja.

    Kebijakan modernisasi pertanian pada masa Orde baru atau Revolusi Hijau ini merupakan perubahan cara bercocok tanam dari cara tradisional ke cara modern. Revolusi Hijau merupakan suatu revolusi produksi biji-bijian dari hasil penemuan-penemuan ilmiah berupa benih unggul baru dari berbagai varietas, gandum, padi, dan jagung yang mengakibatkan tingginya hasil panen komoditas tersebut. Tujuan Revolusi hijau adalah mengubah petani-petani gaya lama (peasant) menjadi petani-petani gaya baru (farmers), memodernisasikan pertanian gaya lama guna memenuhi industrialisasi ekonomi nasional. Revolusi hijau ditandai dengan semakin berkurangnya ketergantungan para petani pada cuaca dan alam karena peningkatan peran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam peningkatan produksi bahan makanan. Puncak dari capaian pertanian di Indonesia adalah terwujudnya swasembada beras pada tahun 1984-1986.


C. Dampak dari Penerapan Revolusi Hijau di Indonesia

    Revolusi hijau mendapat kritik sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan kelestarian lingkungan karena mengakibatkan kerusakan lingkungan yang parah. Oleh para aktivis lingkungan, kerusakan dipandang bukan karena Revolusi Hijau tetapi karena akses dalam penggunaan teknologi yang tidak memandang kaidah-kaidah yang sudah ditentukan.

  Selain itu, Revolusi Hijau juga telah menyebabkan terjadinya kesenjangan ekonomi dan sosial pedesaan. Fenomena itu disebabkan hanya petani kaya yang dapat menikmati dan memanfaatkan kredit mudah dan murah, sehingga dapat menerapkan teknologi yang mahal dalam sistem budi daya pertanian yang baru. Hal itu karena, petani kaya merupakan kelompok pertama yang dihubungi pemerintah setempat dan para penyuluh pertanian untuk menyampaikan informasi tentang jenis padi baru yang dapat menghasilkan produksi lebih banyak. Pada umumnya petani kaya mempunyai hubungan pribadi yang lebih dekat dengan para pejabat desa, sehingga mereka merupakan kelompok pertama yang mendapatkan informasi dari aparat desa mengenai berbagai macam hal, termasuk di antaranya teknologi baru di bidang budi daya padi. 

  Dengan demikian, petani kecil hanya dapat mengikuti petani lainnya yang telah mencapai keberhasilan. Keadaan itu menyebabkan petani kecil tidak memperoleh hasil maksimal dalam Program Revolusi Hijau. Kondisi itu menyebabkan mereka menjadi peserta yang ketinggalan dalam penggunaan dan pemanfaatan teknologi baru yang diperkenalkan melalui revolusi hijau.

    Pertanian revolusi hijau juga dapat disebut sebagai kegagalan karena produknya sarat kandungan residu pestisida dan sangat merusak ekosistem lingkungan dan kesuburan tanah. Sebagaimana kita ketahui bahwa salah satu upaya untuk meningkatkan hasil pertanian adalah dengan penggunaan pestisida untuk membunuh hama dan gulma. Penyuluh pertanian tidak pernah menyampaikan informasi secara utuh bahwa pupuk kimia sebenarnya tidak dapat memperbaiki sifat-sifat fisika tanah, sehingga tanah menghadapi bahaya erosi. Penggunaan pupuk buatan secara terus-menerus juga akan mempercepat habisnya zat-zat organik, merusak keseimbangan zat-zat makanan di dalam tanah, sehingga menimbulkan berbagai penyakit tanaman. Akibatnya, kesuburan tanah di lahan-lahan yang menggunakan pupuk buatan dari tahun ke tahun terus menurun.

    Meskipun demikian, dengan diterapkannya revolusi hijau produksi padi di Indonesia mengalami peningkatan. Keberhasilan tersebut menggembirakan kehidupan petani karena dapat meningkatkan produksi pertaniannya. Daerah – daerah yang sebelumnya memproduksi hasil tanaman secara terbatas dan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakatnya, dengan diterapannya revolusi hijau kini dapat menikmati hasil yang lebih baik, bahkan kekurangan bahan pangan pun dapat diatasi dengan baik pula. Bahkan ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi dan semua sektor ekonomi dihantam krisis, akan tetapi sektor pertanian dapat bertahan dan menjadi pilar penyangga pertumbuhan ekonomi Indonesia sehingga cukup banyak orang beralih ke sektor agribisnis.



Sumber:

Bustanul, Arifin. 2001. Spektrum Kebijakan Pertanian Indonesia; Telaah, Strktur, Kasus, dan Alternatif     Strategi. Jakarta: Erlangga.

Dosen Pendidikan 2. 2021. Revolusi Hijau, di https://www.dosenpendidikan.co.id/revolusi-hijau/ (di        akses pada 23 April 2021, pukul 22.15 WIB)

Muharram, Samahuddin. 2020. Kebijakan “Revolusi Hijau” Paman Birin dalam Menjaga Kerusakan        Lingkungan di Provinsi Kalimantan Selatan, Jurnal Analisis Kebijakan dan Pelayanan Publik, Vol. 6,      No.1, Juni 2020. 

Rinardi, Haryono, Noor Naelil M, dkk. 2019. Dampak Revolusi Hijau dan Modernisasi Teknologi            Pertanian: Studi Kasus pada Budidaya Pertanian Bawang Merah di Kabupaten Brebes, Jurnal Sejarah     Citra Lekha, Vol. 4, No. 2, 2019, hlm. 128. 

Setiawan, Bonnie, 1999, Peralihan Kapitalisme di Dunia Ketiga, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Whaley, Floyd, 2010, Digging into the Green Revolution, Development Asia, April-June



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memadukan Unsur Budaya Jawa dan Teknologi ala Gedung Baru Museum Sonobudoyo

AGAMA SIKH: SEJARAH, AJARAN, DAN SEPAK TERJANGNYA DI INDIA

SEJARAH SINGKAT KEPOPULERAN IKAN CUPANG DAN JENIS-JENISNYA DI INDONESIA