AGAMA SIKH: SEJARAH, AJARAN, DAN SEPAK TERJANGNYA DI INDIA
Agama Sikh atau Sikhisme merupakan agama terbesar ketiga setelah Hindu dan Islam di India. Sekitar 16 juta dari penduduk India dan 2 juta dari negara lainnya menjadi pemeluk dari Sikhisme. Kepercayaan yang berpusat kepada Tuhan YME menjadikan Sikh agama monoteisme. Sikh memiliki kemiripan dengan agama Hindu dan Islam, sehingga seringkali disebut sebagai penggabungan atau sinkretisme antara keduanya. Agama ini muncul sekitar abad ke-15 M diperkenalkan oleh seorang tokoh dari India yang bernama Guru Nanak (1469-1538).
Guru Nanak dilahirkan di Talwandi Rai Bhoe, sebuah desa kecil di tepi sungai Ravi, sebelah barat Lahore, ibukota wilayah Punjab pada tanggal 15 April 1469. Guru Nanak lahir dari kasta Ksatria yang merupakan keturunan suku Khattri, salah satu suku dari bangsa Arya. Guru Nanak menjalani kehidupan seperti halnya masyarakat yang lainnya. Ia mahir membaca dan menghitung sejak berusia tujuh tahun. Ia tercatat sebagai murid seorang guru sufi, Sayid Hasan untuk belajar Al Qur’an dan sastra Arab. Beberapa tahun kemudian, Nanak mencapai usia yang dalam adat Hindu harus diberi tenunan suci, namun ia menolak dan pergi meninggalkan upacara tersebut. Nanak dikawinkan dengan gadis bernama Sulakhani dan memperoleh dua orang putra. Sampai suatu ketika, ia mengalami pengalaman mistis yang pertama kali dirasakannya.
Pagi-pagi sekali pada hari itu, ketika Nanak sedang berendam di sebuah sungai, tiba-tiba ia lenyap ke dalam air dan selama tiga hari tak kunjung muncul. Setelah muncul kembali, berulang kali ia meneriakkan kata-kata “Tidak ada Hindu, tidak ada Islam”. Setelah kejadian tersebut, ia menjalani meditasi dan menjauh dari godaan duniawi. Setelah masa pengembaraan, perenungan, dan diskusi dengan ahli-ahli agama, Nanak mendirikan komunitas pertamanya di Kartarpur dan menjabat sebagai “pendahulu” agama ini. Kitab suci Sikhisme bernama Adi Granth, disana tertulis komposisi puisi dan khotbah.
Nanak melakukan dakwah dengan mengadakan perjalanan keliling yang dikenal dengan udasis. Ia tidak mendirikan kuil atau tempat tinggal bagi ajarannya, ia hanya mendorong agar manusia mengisi hatinya dengan perasaan cinta Tuhan. Ia juga mengajarkan untuk berusaha menjadi orang baik dan menghormati antar sesama. Ajaran-ajaran Guru Nanak secara ideologis lebih dekat kepada Islam namun seiring berkembangnya waktu menjadi lebih dekat kepada ajaran Hindu.
Dalam Sikhisme, doktrin-doktrinnya mengandung ajaran Hindu pada satu sisi dan ajaran Islam pada sisi lainnya. Dari Islam ia menjelaskan pandangan mengenai kemahaesaan Tuhan, sedangkan dari Hindu ia menjelaskan tentang penciptaan dan ketidakabadian kosmos. Berikut adalah ajaran-ajaran Sikh:
1. Ajaran tentang Tuhan
Guru Nanak mengajarkan tentang keesaan Tuhan. Tuhan itu bersifat kekal abadi, berdiri sendiri dan tanpa rupa. Ia menolak dewa-dewa dan konsep ketuhanan yang bercorak monistik sebagaimana dalam agama Hindu. Nanak tidak setuju dengan ajaran tentang upacara-upacara penyembahan kepada dewa-dewa yang diwujudkan dalam bentuk patung. Begitu juga ia menentang ajaran Hindu tentang mandi di sungai yang dianggap keramat.
2. Ajaran tentang Manusia
Menurut Nanak, manusia adalah makhluk yang buta dan sering menutup matanya dari wahyu Tuhan. Manusia membutuhkan keselamatan dalam hidupnya. Namun karena kebutaan Tuhan, manusia sering berbuat sesuatu yang sia-sia. Keselamatan manusia dapat dicapai melalui penyadaran kembali manusia kepada Tuhan dalam kehidupannya. Manusia harus hidup dengan mengutamakan kesempurnaan moral.
3. Ajaran tentang Alam
Alam semesta adalah ciptaan Tuhan dan tidak abadi. Abadi dan kekal hanya milik Tuhan, karena Tuhan adalah Realitas Mutlak. Melalui kodrat Tuhan, alam ini terjadi dan melalui hukum Tuhan alam ini menjalani kehidupannya. Tidak ada sesuatu yang berjalan di luar kehendak dan hukum Tuhan. Dengan kodrat Tuhan semuanya dikuasai oleh maut dan menuju kepada kemusnahan. Dengan kodrat Tuhan pula manusia terserap ke dalam Yang Maha Besar.
Guru Nanak menunjuk salah satu pengikutnya yang bernama Angad sebagai penggantinya. Angad memulai garis keturunan dari sepuluh guru Sikh yang menjadikannya agama besar sekaligus komunitas dan kekuatan politik yang berbeda. Sepuluh tokoh sejarah dianggap sebagai pendiri Sikhisme atau mediator ilahi. Masing-masing dari mereka memberikan kontribusi untuk perkembangan awal Sikhisme yang memberikan definisi kepercayaan yang berbeda dari Hindu dan Islam pada abad ke-16 dan ke-17. Guru-guru tersebut antara lain Guru Angad, Amar Das, Ram Das, Arjun/Arjan, Har Gobind, Hari Rai, Har Kishan, Tegh Bahadur, Govind Singh/Gobind Singh. Mengikuti ajaran Gobindh Singh, guru digantikan oleh Adi Granth setelah kematiannya. Pemeluk Sikh menganggap Adi Granth sebagai benda hidup dan disebut sebagai Guru Granth Sahib, yang berarti “Guru terhormat dalam bentuk buku”.
Pada abad ke-17, penganut Sikh melakukan perlawanan militan melawan kekaisaran Mughal yang dianggap sebagai ancaman. Akibatnya guru kesembilan Sikh, Tegh Bahadur dieksekusi oleh Kekaisaran Mughal. Guru kesepuluh dan terakhir, Govind Singh membentuk kelompok khusus pejuang Sikh dengan nama Khalsa. Dalam sebuab upacara inisiasi, air diubah menjadi nektar suci dengan diaduknya pedang yang melambangkan keadilan Tuhan.
Govind Singh merupakan salah seorang pengarah agama Sikh yang menduduki jabatan paling lama yaitu 33 tahun. Waktu tersebut dipergunakan untuk membangun kekuatan politik dan militer. Golongan pengikutnya Khalsa Path, terkenal sebagai kekuatan militer yang handal. Govind Singh telah membawa pengikutnya untuk berperang melawan penganut Hindu dan Islam dengan tujuan mendirikan negara sendiri. Pada paruh pertama abad ke-19, kekuasaan Sikh di Punjab mencapai tingkat tertinggi di bawah maharaja Ranjit Singh. Ia memimpin sebuah kerajaan yang kuat tetapi pada akhirnya ditaklukkan Inggris dalam dua perang. Pada 1948 kaum Sikh mendeklarasikan negara baru bernama Republik Khalistan meskipun tuntutan mendirikan negara tidak disetujui oleh pemerintah. Pergolakan ini membuat Perdana Menteri India Indira Gandhi ditembak mati oleh pengawal pribadinya yang menganut Sikh dan banyaknya korban lainnya.
Sikh sebagai suatu kepercayaan baru dimana disebut-sebut sebagai sinkretisme antara Hindu dan Islam membawa warna baru di India saat pertama kemunculannya. Ajaran-ajaran yang disampaikan menyerukan kebenaran dan hormat menghormati antar manusia. Namun hal ini tidak sejalan dengan apa yang terjadi. Banyak konflik yang mengiringi perkembangan Sikh terutama di India. Hal ini membuktikan bahwa para penganutnya belum sepenuhnya menjadikan agama sebagai imun dari perkara-perkara politik namun malah memperkeruhnya.
Referensi
Buku
Aziz–Us–Samad, Ulfa. 2002. Agama–agama Besar Dunia. Jakarta: Darul Kutubil Islaiyah.
Coward, Harold. 1989. Pluralisme, Tantangan Bagi Agama-Agama. Yogyakarta:
Kanisius.
Daya, Burhanuddin. 1988. ''Agama Sikh'', dalam Djam'annuri (ed), Agama-Agama di Dunia. Yogyakarta: WN Sunan Kalijaga Press.
Keene, Michael. 2006. Agama-Agama Dunia. Yogyakarta: Kanisius.
Zaehner, Robert C. 1993. Kebijaksanaan dari Timur. Jakarta: Gramedia.
Skripsi
Thari Mayaratu. 2011. Ajaran Ketuhanan dalam Agama Sikh. Skripsi. Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah: Jakarta.
Jurnal
Muhammad In’am Esha. 2008. “Agama Sikh di India (Sejarah Kemunculan, Ajaran dan Aktivitas Sosial-Politik)”. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Komentar
Posting Komentar