PERANG BUBAT SISI KELAM KEMEGAHAN MAJAPAHIT DALAM MENAKLUKKAN NUSANTARA
Siapa yang yang tak kenal Majapahit? Kerajaan satu ini merupakan salah satu kerajaan yang membekas dalam ingatan masyarakat Indonesia dalam banyak narasi sejarahnya. Bagi setiap orang yang pernah merasakan bangku pendidikan pasti tidak asing lagi dengan kerajaan Majapahit beserta sejarahnya. Sebuah kerajaan yang didirikan oleh Dyah Wijaya pada tahun 1293. Kerajaan ini mengalami masa kejayaannya pada masa kekuasaan Hayam Wuruk pada tahun 1350 hingga 1389. Kerajaan besar yang konon katanya menjadi pelopor terbentuknya nusantara ini memiliki banyak catatan menarik untuk diungkapkan.
Dengan kemegahan dan kedigdayaannya menyatukan nusantara, Majapahit ternyata juga memiliki beberapa kisah kelam. Banyak pemberontakan dan perang yang terjadi selama berdirinya kerajaan ini. Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai perang Bubat. Perang yang terjadi karena kesalahpahaman yang berujung suatu tragedi. Perang yang mulanya adalah rencana perkawinan, menjadi geger antara Majapahit dan Sunda. Meski ada niat baik untuk mempersatukan nusantara di dalamnya, namun karena kesalahpahaman menjadi timbul perselisihan.
Peristiwa Perang Bubat bermula dari maksud Hayam Wuruk untuk menikahi Dyah Pitaloka Citraresmi, putri Prabu Linggabuana dari negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk pada Dyah Pitaloka karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit. Lukisan yang merupakan karya Sungging Prabangkara. Berdasarkan catatan sejarah Pajajaran oleh Saleh Danasasmita dan Naskah Perang Bubat oleh Yoseph Iskandar, tujuan Hayam Wuruk untuk menikahi Dyah Pitaloka demi mempererat tali persaudaraan yang sekian lama terputus antara Majapahit dengan Sunda.
Alasan umum yang dapat diterima oleh banyak orang adalah tujuan Hayam Wuruk untuk menikahi Dyah Pitaloka yakni menundukkan Sunda dengan cara damai. Atas restu dari seluruh jajaran Majapahit, Hayam Wuruk kemudian mengirimkan surat kepada Maharaja Linggabuana untuk meminang Dyah Pitaloka. Perencanaan upacara pernikahan akan dilangsungkan di Majapahit. Sebenarnya, pihak Kerajaan Sunda keberatan mengenai hal tersebut, karena dalam adat Jawa pada saat itu tidak lazim bahwa rombongan pengantin perempuan menghampiri pengantin laki-laki. Ada pula dugaan bahwa rencana ini merupakan jebakan dari Majapahit yang sebenarnya akan menaklukkan Sunda. Namun Linggabuana tetap bersikeras pergi ke Majapahit, kemudian diterima dan ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.
Raja Sunda Prabu Linggabuana datang ke Pesanggrahan Bubat bersama putrinya Dyah Pitaloka, diiringi dengan beberapa prajurit. Kemudian timbullah niat Gajah Mada untuk memenuhi Sumpah Palapa yang pernah diucapkannya sebelum Hayam Wuruk berkuasa. Ia mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, melainkan sebagai tanda penyerahan diri kerajaan Sunda terhadap Majapahit. Hayam Wuruk merasa bimbang karena selain ia ingin menikahi Dyah Pitaloka sepenuh hati, ia juga sadar bahwa Gajah Mada merupakan patih yang handal dalam melakukan segala sesuatu menyangkut kerajaan.
Kesalahpahaman ini menimbulkan perang yang kemudian diberi nama Perang Bubat sesuai tempat dimana perang ini terjadi. Raja Sunda yang hanya membawa kurang dari seratus prajurit tentu saja mengalami kekalahan. Pengawal kerajaan Sunda dikepung di tengah alun-alun Bubat. Meskipun sanggup menahan serangan Majapahit berkali-kali, akhirnya hampir seluruh pihak Kerajaan Sunda dihancurkan Majapahit. Raja Sunda pun tewas setelah berduel dengan salah satu jenderal Majapahit.
Para rombongan wanita Sunda melakukan bunuh diri massal sebagai bentuk pengabdian kepada para suami mereka. Mereka memilih mati daripada mengalami penghinaan dalam bentuk pemerkosaan maupun perbudakan. Hayam Wuruk yang mendengar tragedi tersebut terkejut. Konon, Gajah Mada disalahkan sebagai penyebab dari terjadinya perang Bubat. Gajah Mada meninggal dengan kisah yang tidak jelas pada tahun 1364. Setelah tidak adanya sosok Mahapatih, Hayam Wuruk menunjuk empat mahamantri. Namun, ketiadaan Gajah Mada menjadi kehilangan besar Majapahit dan saat itulah Majapahit mulai mengalami kemunduran.
wah sangat menarik pembahasannya kak, semoga banyak artikel-artikel lainnya ya 😀
BalasHapus